Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Agustus 2017
  MASA BIASA PEKAN 20
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
    1 2 3 4
27 28 29 30 31    
  Jumat, 25 Agustus 2017
   
 

TUHAN MENUNJUKKAN KEMURAHAN
HATINYA KEPADA SEMUA ORANG YANG DIKURUNG DALAM KETIDAKTAATAN

 
 
 
Rut 1:1.3-6.14b-16.22 | Mzm 146:5-10 | Mat 22:34-40

Naomi pulang bersama-sama Rut dan tiba di Betlehem (Rut 1:1.3-6.14b-16.22)

Pada zaman para hakim, pernah terjadi kelaparan di tanah Israel. Maka pergilah seorang dari Betlehem, Yehuda, Elimelekh namanya, beserta isterinya dan kedua orang anaknya, ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. Kemudian meninggallah Elimelekh, suami Naomi, sehingga Naomi tertinggal dengan kedua anaknya. Kedua anaknya itu lalu mengambil wanita Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut. Dan mereka tinggal di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah pula kedua anaknya, sehingga Naomi kehilangan suami dan kedua anaknya. Kemudian berkemas-kemaslah ia dengan kedua menantunya, mau pulang meninggalkan daerah Moab. Sebab di daerah Moab itu Naomi telah mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.
Orpa lalu mencium mertuanya, minta diri pulang ke rumahnya. Tetapi Rut tetap berpaut pada mertuanya. Berkatalah Naomi, “Iparmu telah pulang kepada bangsanya dan kepada para dewanya. Pulanglah juga menyusul dia!’ Tetapi Rut menjawab, “Janganlah mendesak aku meninggalkan dikau dan tidak mengikuti engkau. Sebab ke mana pun engkau pergi, ke situ pula aku pergi. Di mana pun engkau bermalam, di situ pula aku bermalam. Bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.” Demikianlah Naomi pulang bersama-sama Rut, menantunya, yang berbangsa Moab dan turut pulang. Dan mereka tiba di Betlehem pada permulaan musim panen jelai.

SEORANG teman menyempatkan diri berlibur bersamaku ketika masih sama-sama di panti pendidikan para calon imam. Di antara para frater, ada semacam konsep baku tentang daerah tertentu, walaupun jujur diakui kami sendiri belum pernah mengalaminya secara langsung. Adonara, tempat asalku, dianggap sebagai pulau orang-orang keras, suka perang dan tak segan membunuh. Ketika datang ke tempatku, temanku ini agak takut-takut. Tetapi hanya sehari, konsep itu berubah. Ia terkejut, ketika di jalan kami selalu disapa orang, baik yang dikenal maupun tidak. "Bagaimana bangsa yang ramah ini digambarkan sebagai bangsa pembunuh?" begitu ceriteranya ketika berkumpul kembali di kampus.

PENGALAMAN kebaikan keluarga Naomi telah memberi gambaran baru bagi Rut, menantu Naomi. Ketika suaminya meninggal dunia, ia sesungguhnya bebas untuk kembali ke lingkungan keluarganya. Tetapi kesan mendalam dari Naomi menyurutkan niat itu. Ia ingin bersama Naomi, termasuk dalam hal iman. Secara sepintas dapat kita katakan, bahwa Rut ingin terus menimba keindahan cinta yang ditampilkan oleh Naomi. Jika Naomi bisa memberikan cinta semulia itu, tentu Tuhan yang melandasi imannya jauh lebih agung dan dalam cinta-Nya. Cinta kepada Naomi telah mengubah Rut dan menghantarnya menggapai cinta kepada Tuhan. Cinta inilah yang diwartakan oleh Yesus kepada orang-orang yang menantikan keselamatan. "Cintailah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap budi; dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri", kata Yesus. Ajaran Yesus ini merupakan asal sekaligus tujuan hidup-Nya, yang di kemudian hari dibuktikan-Nya lewat kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari kubur.

TANGGAPAN kita ialah membiarkan diri dibentuk dan diubah oleh cinta Tuhan. Ada tingkatan cinta yang umum diterima, yakni cinta erotis yang diwarnai seks; cinta filia yang menggambarkan relasi terdalam manusia; dan cinta agape, pengorbanan tanpa pamrih. Sebagai manusia kita masih sangat melekat pada cinta yang berazaskan memberi untuk menerima. Namun cinta agape, berkorban semata-mata demi yang dicintai, hendaknya menjadi nilai ideal yang kita perjuangkan seumur hidup. Kita mungkin tidak menggapainya, tetapi setidak-tidaknya cinta itu mengubah kita menjadi orang yang terus mencintai. Dunia pasti lebih baik di tangan orang yang tau mencintai. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, sadarkanlah kami selalu akan cinta sejati kepada Tuhan dan sesama, sehingga kami menjadi manusia baru. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 146:5-10; R: 2a)

Ref: Pujilah Tuhan, hai jiwaku!

  1. Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya. Dialah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya.
  2. Dialah yang menegakkan keadilan bagi orang yang diperas, dan memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung.
  3. Tuhan membuka mata orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing.
  4. nak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. Tuhan itu raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun.

Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri (Mat 22:34-40)

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membungkam orang-orang Saduki, berkumpullah mereka. Seorang dari antaranya, seorang ahli Taurat, bertanya kepada Yesus hendak mencobai Dia, “Guru, hukum manakah yang terbesar dalam hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihanilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan segenap akal budimu. Itulah hukum yang utama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah kasihanilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge