Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Agustus 2017
  MASA BIASA PEKAN 18
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
    1 2 3 4
27 28 29 30 31    
  Senin, 7 Agustus 2017
   
 

TERANGNYA SEPERTI PELITA DI KEGELAPAN SAMPAI FAJAR MENYINGSING, SEPERTI BINTANG TIMUR BERSINAR DI DALAM HATIMU

 
 
 
Bil 11:4b-15 | Mzm 81:12-17 | Mat 14:13-21

Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas bangsa ini (Bil 11:4b-15)

Sekali peristiwa, dalam perjalanannya melintasi gurun pasir, orang-orang Israel berkata, “Siapa yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat akan ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, akan mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tiada sesuatu pun yang kita lihat kecuali manna.” Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah. Orang-orang Israel berlari kian kemari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dengan lumping. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar. Rasanya seperti rasa penganan yang digoreng. Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.
Musa mendengar keluh kesah bangsa itu, sebab orang-orang dari setiap keluarga menangis di depan pintu kemahnya. Maka bangkitlah murka Tuhan dengan sangat, dan hal itu dinilai jahat oleh Musa. Maka Musa berkata kepada Tuhan, “Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk, dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia dalam pandangan-Mu? Mengapa Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung atau melahirkan bangsa ini? Mengapa Engkau berkata kepadaku, ‘Pangkulah dia seperti seorang inang memangku anak yang sedang menyusu? Bimbinglah dia ke tanah yaang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyangnya! Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dan berkata, ‘Berilah kami daing untuk dimakan.’ Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja; jika aku mendapat kasih karunia dalam pandangan-Mu janganlah kiranya aku mengalami malapetaka!”

INISIATIP Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir tak berjalan mulus. Mentalitas orang Israel sendiri masih perlu dibenahi agar tahan terhadap penderitaan. Yang tidak mereka sadari, penderitaan di padang gurun itu membentuk mereka menjadi bangsa yang tahu berjuang. Tuhan menyertai mereka dengan berbagai cara, terutama menyiapkan kebutuhan mereka dalam rupa manna, air dari wadas, daging burung, kemenangan atas lawan, dan sebagainya. Campur tangan Tuhan itu besar dan dengan cara yang mengagumkan.

CAMPUR TANGAN Tuhan tidak pernah berhenti di dalam hidup manusia. Ketika Tuhan mewujudkan rencana keselamatan dalam diri Yesus Kristus, campur tangan itu terjadi antara lain dalam berbagai mujizat. Namun dalam mujizat perbanyakan roti, inisiatip Tuhan itu disertai dengan keterlibatan manusia. "Kamu harus memberi mereka makan", kata Yesus kepada para rasul, ketika mereka meminta Yesus menyuruh orang-orang pulang untuk mencari makanan di desa-desa sekitar. Dari modal lima roti dan dua ikan itu, ribuan orang akhirnya beroleh makanan. Mujizat Tuhan terjadi lagi, tetapi peranan manusia mulai diperhitungkan. Pembangunan Kerajaan Allah tidak semata-mata karena kekuatan Tuhan, tetapi partisipasi manusia di dalam tugas kerasulan. Di kemudian hari, Yesus mewujudkannya dengan mengutus para murid itu, berkarya untuk dan atas nama-Nya.

SELAMA dua puluh lima tahun pelayanan imamat, saya melihat perkembangan kerasulan yang dipercayakan kepadaku. Kebetulan kerasulanku banyak di bidang komunikasi. Bergerak dari media konvensional (cetak, radio-TV analog) ke teknologi digital yang melahirkan media digital, termasuk media sosial berbasis internet, kerasulan itu pada hakekatnya tetap sama, yakni turut serta mewartakan keselamatan dalam diri Yesus. Perubahan itu terjadi dalam bentuk, metode, sistem, kreativitas yang tanggap terhadap perkembangan. Karena itu, intinya tetap sama, yakni beriman. Tanpa iman, semua metode itu tak ada artinya. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah iman kami, agar seberat apapun salib hidup kami, kami tidak akan berpaling dari pada-Mu. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 81:12-17; R: 2a)

Ref: Bersorak-sorailah bagi Allah, kekuatan kita.

  1. Umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti angan-angannya sendiri!
  2. Sekiranya umat-Ku mendengar Aku; sekirannya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan, seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan para lawan mereka Kupukul dengan tangan-Ku.
  3. Orang-orang yang membenci Tuhan akan tunduk kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik, dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.

Sambil menengadah ke langit Yesus mengucapkan doa berkat, dibagi-bagi-Nya roti itu, dan diberikan-Nya kepada para murid. Lalu para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak (Mat 14:13-21)

Sekali peristiwa, setelah mendengar berita pembunuhan Yohanes pembaptis, menyingkirlah Yesus. Dengan naik perahu Ia bermaksud mengasingkan diri ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia, dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam para murid Yesus datang kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Mereka tidak perlu pergi. Kalian saja memberi makan mereka.” Jawab mereka, “Pada kami hanya ada lima buah roti dan dua ekor ikan.” Yesus berkata, “Bawalah ke mari.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Setelah itu Ia mengambil kelima buah roti dan kedua ekor ikan. Sambil menengadah ke langit diucapkan-Nya doa berkat. Di bagi-bagi-Nya roti itu dan diberikan-Nya kepada para murid. Para murid itu lalu membagi-bagikannya kepada orang banyak. Mereka semua makan sampai kenyang. Kemudian potongan-potongan roti yang sisa dikumpulkan sampai dua belas bakul penuh. Yang turut makan kira-kira lima ribu orang pria; tidak termasuk wanita dan anak.


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge