Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Agustus 2017
  MASA BIASA PEKAN 19
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
    1 2 3 4
27 28 29 30 31    
  Kamis, 17 Agustus 2017
  Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
 

KITA MATI DALAM PERSEKUTUAN DENGAN ADAM, KITA AKAN HIDUP KEMBALI DALAM PERSEKUTUAN DENGAN YESUS KRISTUS

 
 
 
Sir 10:1-8 | Mzm 101:1a.2ac.3a.6-7 | 1 Ptr 2:13-17 | Mat 22:15-21

Para penguasa bertanggung jawab atas rakyatnya (Sir 10:1-8)

Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur. Seperti para penguasa, demikianlah pula para pegawainya, seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya. Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya. Di dalam tangan Tuhan, terletak kuasa atas bumi, dan pada waktunya Ia mengangkat orang yang serasi atasnya. Di dalam tangan Tuhanlah, terletak kemujuran seseorang, dan kepada para pejabat, Tuhan mengaruniakan martabat. janganlah pernah menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia, dan bagi kedua-duanya, kelaliman adalah salah. Pemerintah beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan, dan uang.

DUKUNGAN masyarakat luas kepada Presiden Joko Widodo betul memberikan harapan bagi masa depan Indonesia. Kecemasan sempat muncul ketika golongan-golongan radikal terus membuat keresahan dan mengkampanyekan perubahan ideologi bangsa. Pancasila hendak diganti dengan ideologi eksklusip sektarian. Jika itu terlaksana, berakhirlah prinsip "Bhineka Tunggal Ika", selogan kebanggaan bangsa. Tak mengherankan, ketika golongan orang berusaha menjatuhkan rejim yang ada sekarang, masyarakat luas bergerak memberikan dukungan. Orang sadar penuh, kalau tujuan nasional itu belum tercapai, tetapi orang sudah melihat, jikalau kinerja nasional terus bergerak dalam irama ini, harapan itu akan selalu hidup dan memacu kesungguhan setiap orang melakukan sesuatu demi pengembangan bangsa dan negara. Ketika semua orang memiliki harapan yang sama, lebih mudah menggerakkan kerja sama untuk mewujudkannya.

MEMBANGUN bangsa ini membutuhkan kesungguhan dari semua elemen bangsa. Pertama kesungguhan jajaran pemerintah yang menjadi motor penggerak. Putera Sirakh mengingatkan pentingnya kesadaran pemerintah, bahwa kelaliman, kekerasan dan cinta harta merupakan faktor yang meruntuhkan. Kesejahteraan umum sering ditentukan kearifan pemimpinnya, sehingga pemerintah harus menyadari perannya. Kedua, masyarakat itu sendiri tak boleh bermental budak tetapi harus berperilaku sebagai orang merdeka. St. Petrus mengingatkan, warga negara haruslah tunduk kepada penguasa, tetapi itu dilakukan atas dasar cinta dan kehendak bebas. Dalam cinta, orang terbebas dari manipulasi kekuasaan untuk meraih keuntungan sendiri. Ketiga, semua pihak tak boleh mencampuradukkan kekuasaan duniawi dengan kuasa rohani yang merupakan wewenang Tuhan. Asal usul kuasa ada di tangan Tuhan, tetapi Tuhan tidak ikut campur tangan dalam skala praksis penataan kehidupan bersama. Tuhan memberi prinsip dasar, manusia menjabarkannya dalam tindakan konkrit. Maka, hak kaisar dan Allah harus sama-sama dihormati. Mengabaikan yang satu berarti membuat ketidakseimbangan sosial. Perpecahan membawa malapetaka bagi banyak orang.

TANGGAPAN kita tentu diharapkan membawa kesejahteraan bagi semua orang. St. Paulus memberi anjuran praktis, "Kamu telah dipanggil untuk merdeka, tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih" (Gal 5:13). Yang berat di sini adalah membangun mental pelayanan itu, karena dalam politik orang berjuang untuk meraih kuasa dan mewujudkan agendanya. Maka moral politik Kristiani haruslah diajarkan kepada umat Allah, agar dengan prinsip tersebut mereka masuk ke dalam pelayan publik dan membaharui semangat publik agar mau melayani dengan penuh kasih. Mungkinkah? Bersama Yesus tak ada yang tak mungkin. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, berkatilah bangsa dan negara kami, agar menjadi rumah yang aman bagi kami semua. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 101:1a.2ac.3a.6-7; R: Gal 5:13)

Ref: Kamu dipanggil untuk kemerdekaan; maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih.

  1. Ya Tuhan, aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukumMu. Aku hendak hidup tanpa cela. Aku hendak hidup dengan suci dalam rumahku, hal-hal yang jahat takkan kuperhatikan.
  2. Mataku tertuju kepada rakyatku yang setia, supaya mereka tinggal bersama aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan mendukung aku.
  3. Orang yang melakukan tipu daya, tidak akan diam dalam rumahku. Orang yang berbicara dusta tidak bertahan di bawah pandanganku.

Berlakulah sebagai orang yang merdeka (1 Ptr 2:13-17)

Saudara-saudaraku yang terkasih, demi Allah, tunduklah kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan untuk mengganjar orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang bodoh. Hiduplah sebagai orang-orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba-hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

 

Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah! (Mat 22:15-21)

Sekali peristiwa, orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus, “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapatMu: Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka, Ia lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepadaKu mata uang untuk pajak itu!” Mereka membawa satu dinar kepada Yesus. Maka, Yesus bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge