Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Agustus 2017
  MASA BIASA PEKAN 18
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
    1 2 3 4
27 28 29 30 31    
  Rabu, 9 Agustus 2017
   
 

TERANGNYA SEPERTI PELITA DI KEGELAPAN SAMPAI FAJAR MENYINGSING, SEPERTI BINTANG TIMUR BERSINAR DI DALAM HATIMU

 
 
 
Bil 13:1-2a.25-14:1.26-29.34-35 | Mzm 106:6-7a.13-14.21-23 | Mat 15:21-28

Israel mengolah tanah yang diidamkan (Bil 13:1-2a.25-14:1.26-29.34-35)

Ketika bangsa Israel dalam perjalanannya sampai di gurun Paran, bersabdalah Tuhan kepada Musa, “Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan yang akan Kuberikan kepada orang Israel. Dari setiap suku hendaknya kauutus seorang dari antara pemimpin mereka.” Sesudah lewat empat puluh hari, pulanglah para pengintai itu setelah menjelajah seluruh negeri itu. Mereka langsung menghadap Musa dan Harun serta segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka melapor kepada keduanya dan kepada segenap umat dan memperlihatkan hasil negeri itu. Mereka bercerita “Kami sudah masuh ke negeri Kanaan yang harus kami selidiki itu. Memang benar negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya saja bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu serta sangat besar. Juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, sedangkan orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang Sungai Yordan.”
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa. Ia berkata, “Biar! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab pasti kita akan mengalahkannya.” Tetapi para pengintai lainnya membantah, “Tidak! Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat daripada kita.” Mereka juga menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka itu, katanya, “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai itu memakan penduduknya dan semua orang yang kami lihat di sana tinggi perawakannya. Kami lihat juga di sana raksasa-raksasa, orang Enak, keturunan para raksasa, sehingga kami sendiri merasa seperti belalang saja di hadapan mereka, dan mereka pun menganggap kami demikian.” Lalu segenap umat itu berteriak-teriak dan menangis semalam-malaman.
Maka bersabdalah Tuhan kepada Musa dan Harun, “Masih berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut terhadap-Ku? Segala gerutu orang Israel telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka, ‘Demi Aku yang hidup,’ demikianlah sabda Tuhan, ‘Aku akan memperlakukan kalian sesuai dengan kata-katamu sendiri. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berserakan, yakni semua orang di antaramu yang sudah terdaftar, semua tanpa kecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kalian telang bersungut-sungut terhadap-Ku. Sungguh, kalian tidak akan masuk ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan akan Kuberikan kepadamu, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! Kalian telah mengintai negeri itu selama empat puluh hari. Sesuai dengan jumlah itu, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kalian harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kalian tahu bagaimana rasanya, jika Aku berbalik dari padamu. Aku, Tuhan, yang berkata demikian. Sesungguhnya, Aku akan melakukan semuanya itu terhadap segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Daku. Di padang gurun ini mereka akan habis, dan di sinilah mereka akan mati.”

BENEDICTUS XVI, paus emeritus, ketika masih menjadi kardinal, dikenal sebagai tokoh konservatip Gereja, yang bertugas menjaga ortodoksi ajaran Gereja. Ia menelaah ajaran iman secara ilmiah dan mengajarkannya dalam katekese praktis, sehingga umat Allah memiliki landasan pijak yang kokoh. Tidak popuper di mata banyak orang tidak penting baginya, karena kemurnian ajaran iman yang menjadi perhatiannya. Iman itu dasar keselamatan, karena itu harus dilindungi dari pengeroposan oleh nilai-nilai dunia.

ADA PESAN kontras yang ditampilkan dalam bacaan-bacaan hari ini. Orang Israel, yang merupakan bangsa terpilih, mengalami banyak tanda penyertaan Tuhan. Jika menilik pembebasan mereka dari Mesir, sesungguhnya tak ada alasan meragukan Tuhan dalam hidup mereka. Namun, ketika mendapatkan informasi yang salah tentang bangsa yang mendiami Kanaan, mereka berkeluh kesah di hadapan Tuhan. Bagi Tuhan, ini tanda kurangnya iman, karena itu mereka mendapat sangsinya, yakni tidak berhak masuk ke Tanah Terjanji. Sementara itu Injil Matius memberi kesaksian tentang iman seorang perempuan Kanaan yang mencari Yesus untuk kesembuhan anaknya. Kendatipun ia dipandang rendah oleh kaum Yahudi, ia yakin Tuhan yang berbebas kasih menolong dia dan anaknya. Terjadilah demikian. Kontras yang ironis. Bangsa terpilih justru diabaikan Tuhan karena kurang iman, orang asing justru diberi karunia karena iman.

PENILAIAN Tuhan atas diri kita tidak ditentukan oleh gereja atau denominasi mana kita berasal, tetapi sejauh mana rahmat baptis yang kita peroleh dari Tuhan kita berdayakan untuk hidup dan pelayanan iman. Ada banyak karunia yang sudah kita peroleh dari Tuhan sebagai wujud penyelenggaraan-Nya. Apakah itu sudah menguatkan iman kita? Atau karunia itu segera kita lupakan ketika kita berhadapan dengan tawaran-tawaran lain, termasuk nilai- nilai yang tak selaras dengan iman? Tak ada salahnya kalau kita mulai menyadari bahaya mengabaikan iman, karena di sini titik awal kita juga mengabaikan pengabdian cinta. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami selalu menghargai kasih-Mu, agar kami selalu melakukan hal yang benar di mata-Mu. Amin!

(c) 2017 twm


Mazmur Tanggapan (Mzm 106:6-7a.13-14.21-23; R: 4a)

Ref: Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat.

  1. Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, kami telah berbuat fasik. Nenek moyang kami di Mesir tidak memahami perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.
  2. Tetapi segera mereka melupakan karya-karya-Nya, dan tidak peduli akan nasihat-Nya. Mereka dirangsang nafsu di padang gurun, dan mencobai Allah di padang belantara.
  3. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal besar di Tanah Mesir; yang melakukan karya-karya ajaib di Tanah Ham, dan perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.
  4. Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka.

Hai Ibu, sungguh besar imanmu! (Mat 15:21-28)

Pada suatu hari Yesus menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang wanita Kanaan dari daerah itu dan berseru, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud. Anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab. Lalu para murid Yesus datang dan meminta kepada-Nya, “Suruhlah wanita itu pergi, sebab ia mengikuti kita sambil berteriak-teriak.” Jawab Yesus, “Aku diutus hanya kepada domba-domba umat Israel yang hilang.” Tetapi wanita itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata, “Tuhan, tolonglah aku!” Yesus menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata wanita itu lagi, “Benar Tuhan, tetapi anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Bersabdalah Yesus kepadanya, “Hai Ibu, sungguh besar imanmu! Terjadilah bagimu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge