| |
|
| Siapakah aku ini sehingga berhak untuk menghakimi orang yang berdosa? |
PAUS FRANSISKUS membuat sebuah pernyataan yang menggugah hati banyak orang tentang kaum homoseksual, transgender dan biseksual (LGBT: lesbian, gay, bisex, transgender). Selama ini, kaum liberal dan sekular menilai Gereja Katolik tidak memberi tempat dan perhatian bagi kaum dengan perilaku sex "khusus" ini. Paus Fransiskus tidak membuat pernyataan mendukung atau membenarkan perilaku tersebut, sebagaimana diharapkan oleh banyak kaum liberal sekular, tetapi ia mengingatkan umat beriman untuk tidak menolak mereka. "Ada banyak pembicaraan tentang lobi kalangan gay, tetapi saya tidak melihatnya di Vatikan. Ketika saya bertemu dengan seorang gay, saya harus membedakannya sebagai seorang pribadi dari sebuah lobi. Jika mereka menerima Tuhan dan berkehendak baik, siapakah aku sehingga berhak untuk menghakimi mereka? Kecenderungan seks mereka bukan masalah, mereka tetap saudara-saudara kita", katanya. (NCRegister) Di sana sini banyak orang mengutip secara tidka lengkap dan memanipulasinya untuk agenda liberal, tetapi ucapan Paus Fransiskus ini memberi pesan yang sangat kuat, bahwa umat beriman tak boleh menjadi "orang yang pertama melempar batu kepada kalangan LGBT tersebut.
Bacaan pertama dan Injil hari ini memberi pesan yang sangat dalam, betapa pentingnya bersikap jujur dan adil dalam berhadapan dengan masalah, kejahatan, pelanggaran moral dan penegakan hukum. Berkat kejelian Daniel, Susana yang tidak bersalah bebas dari hukuman mati karena kesaksian palsu dua tua-tua. Berkat perlindungan Yesus, perempuan yang ketahuan berzinah masih mendapat kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Keduanya bertolak dari asumsi yang sama, yakni Tuhan itu penuh kasih dan berkehendak untuk menyelamatkan semua manusia yang berpaling kepadaNya.
Sikap mulia yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus sesungguhnya merupakan penjabaran langsung pesan Injil hari ini. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu", kata Yesus. Kehadiran kita umat beriman bukan untuk menghukum orang berdosa melainkan bersama mereka membaharui diri dan mencari pengampunan Tuhan. Bukankah kita sendiri orang-orang berdosa juga? Jika kita mengikuti pesan Kristus, bukan penghakiman yang kita kedepankan, melainkan belas kasih dan pengampunan. Kita sudah menerima belas kasih dan pengampunan Tuhan, saatnya bagi kita untuk menjadi alat Tuhan membagi belas kasih dan pengampunan itu kepada orang-orang yang membutuhkannya. (ap)
- Menurut anda, mengapa diskriminasi tak boleh ada?
- Apa upaya anda untuk senantiasa menjaga suaa hati sehingga selalu adil dalam memandang sebuah masalah?
(c) 2014 aurelius pati soge |
|
Sungguh, aku mati,meskipun aku tidak melakukan suatu pun dari yang mereka tuduhkan (Dan 13:41c-62)
Pada waktu itu Susana dijatuhi hukuman mati atas tuduhan berbuat serong. Maka berserulah Susana dengan suara nyaring, , “Allah yang kekal, yang mengetahui apa yang tersembunyi, dan mengenal sesuatu sebelum terjadi, Engkau pun tahu bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku. Sungguh, aku mati, meskipun aku tidak melakukan sesuatu pun dari yang mereka dustakan tentang aku.”Maka Tuhan mendengarkan suaranya. Ketika Susana dibawa ke luar untuk dihabisi nyawanya, Allah membangkitkan roh suci dalam diri seorang anak muda, Daniel namanya. Anak muda itu berseru dengan suara nyaring, “Aku tidak berslah terhadap darah perempuan itu!” Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya, “Apa maksudnya kata-katamu itu?” Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka. Katanya, “Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel? Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti? Kembalilah ke tempat pengadilan, sebab orang itu memberikan kesaksian palsu terhadap perempuan ini!”
Maka bergegaslah rakyat kembali ke tempat pengadilan. Orang tua-tua berkata kepada Daniel, “Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami, sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu martabat orang tua-tua.” Lalu kata Daniel kepada orang yang ada di situ, “Pisahkanlah ke dua orang tua-tua tadi jauh-jauh, maka mereka akan diperiksa.” Setelah mereka dipisahkan satu sama lain, Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya, “Hai engkau yang sudah beruban dalam kejahatan, Sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kauperbuat dengan menjatuhkan keputusan-keputusan yang tidak adil, dengan menghukum oang yang tidak bersalah dan melepaskan orang yang bersalah, meskipun Tuhan telah berfirman: Orang yang tak bersalah dan orang benar janganlah kau bunuh. Oleh sebab itu, jikalau engkau sungguh-sungguh melihat dia, katakanlah : Di bawah pohon apakah telah kau lihat mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu, “ Di bawah pohon mesui!” Kembali Daniel berkata, “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri! Sebab malaikat Allah telah menerima firman dari Allah untuk membelah engkau!”
Setelah orang itu disuruh pergi, Daniel pun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya. Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu, “Hai keturunan Kanaan dan bukan keturunan Yehuda, kecantikan telah menyesatkan engkau dan nafsu birahi telah membengkokkan hatimu. Kamu sudah biasa berbuat begitu denga puteri-puteri Israel, dan mereka pun terpaksa menuruti kehendakmu karena takut. Tetapi puteri Yehuda ini tidak mau mendukung kefasikanmu! Oleh karena itu katakanlah kepadaku: Di bawah pohon apakah telah kau dapati mereka bercampur?” Sahut orang tua-tua itu, “Di bawah pohon berangan!” Kembali Daniel berkata, “Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, Supaya engkau binasa!”
Maka berserulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring. Mereka memuji Allah yang menyelamatkan siapa saja yang berharap kepada-Nya. Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu, sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu. Lalu mereka diperlakukan sebagaimana mereka sendiri mau mencelakakan sesamanya. Sesuai dengan taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah.
|
|
Mazmur Tanggapan (Mzm
23:1-6; R: 4ab)
Ref:
Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.
- Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekuragan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau. Ia membaringkan aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku.
- Ia menuntun aku di jalan yang lurus, demi nama-Nya yang kudus. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau bersertaku. Tongkat gembalaan-Ku, itulah yang menghibur aku.
- Engkau menyediakan hidangan bagiku dihadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh melimpah.
- Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
|
|
Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini (Yoh 8:1-11)
Sekali peristiwa Yesus pergi ke bukit Zaitun. Dan pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepadaNya. Yesus duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah, lalu berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintah-kan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatmu tentang hal ini?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkanNya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jariNya. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepadaNya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu, yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
|