Desember 2013 |
|
MASA ADVENTUS |
|
|
|
| |
|
| Perlakukanlah sesamamu dengan penuh penghargaan |
DUA SAMURAI bertemu di pantai Funashima, Kojiro dan Musashi. Kojiro berdiri kukuh di pasir pantai dengan pedang panjang terangkat tinggi di atas kepalanya. Musashi berdiri di batas air dan pasir, seakan dipermainkan angin dan gelombang dengan pedang kayu setinggi mata. Keduanya seperti terpaku dalam satu tablo yang dramatis, tetapi sesungguhnya mereka berada dalam pertarungan psikologis yang dahsyat. Salah melangkah atau membuat gerak yang keliru dalam sepersekian detik bisa berarti nyawa melayang. Mata hati dan perasaan jauh lebih berperanan daripada ketrampilan teknis yang diasah dalam latihan bela diri. Bagi yang membaca kisah dari Novel Musashi garapan novelis besar Jepang, Eiji Yoshikawa, akhir dari pertarungan itu sangat dramatis. Kojiro memainkan pedang dan menebas kepala Musashi. Ikat kepalanya terlepas terbang. Kojiro menyang-ka itu kepala Musashi. Ia tersenyum. Detik beri-kut kepalanya remuk seperti kerikil dihantam pedang kayu Musashi. Kojiro tewas tanpa menyadari kekalahannya. Kematian sempurna seorang samurai. (Yoshikawa, E. Mushashi. Jakarta: Gramedia, 2006, hal. 1243-1246).
Pertentangan antara Yesus dan kaum Farisi serta ahli Taurat semakin tajam. Pengintaian atas diri Yesus semakin ketat. Apa saja dipergunakan untuk menemukan kesalahan sekecil apapun yang dapat dipakai mendakwaNya. Mereka bertanya tentang kuasa mengajar Yesus dan lupa melihat apa inti pengajaran itu. Ibarat buah mangga ada di depan mata untuk dimakan tetapi yang mereka persoalkan ialah dimana dan bagaimana mangga itu bisa bertumbuh. Yesus tahu, bahwa Ia mesti berhati-hati, maka ia memakai metode serupa, bertanya kepada mereka tentang hakekat baptisan Yohanes. Para imam kepala ini percaya kepada baptisan pertobatan dan seruan kenabian Yohanes. Jawaban yang salah jelas akan menjadi sa-saran empuk Yesus. Maka mereka pun dengan gampang lari dari tanggung jawab dengan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu.
Sikap intai mengintai bukanlah kualitas penghayatan iman Kristiani yang patut dibanggakan. Kita diharapkan untuk menghargai penyelenggaraan Tuhan dan mencintai dengan tulus. Jika hati tak tulus, kebaikan sebesar gunung pun akan tetap dilihat sebagai kesalahan. Waspadalah. (ap)
- Pernahkah anda mengamat-amati saudara-saudari seiman untuk mencari-cari kesalahannya?
- Apakah anda menyadarinya sekarang? Apa yang anda lakukan sebagai bentuk pembaharuan diri?
(dikutip dari Berjalan Bersama Sang Sabda 2013) |
|
| REFLEKSI BULAN INI |
Mg |
Sn |
Sl |
Rb |
Km |
Jm |
Sb |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
(Pekan 3) |
|
|
| |
Senin, 16 Desember 2013 |
|
HENDAKLAH LANGIT BERSUKACITA DAN BUMI BERSORAK SORAI DI HADAPAN TAHTA TUHAN KARENA IA SUDAH DATANG |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
Bil 24:2-7.15-17a | Mzm 25:4b-5b.6-7c.8-9 | Mat 21:23-27 |
|
|
|
Sebuah bintang terbit dari Yakub. (Bil 24:2-7.15-17a)
Pada waktu itu Bileam memandang ke depan, dan ia melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka. Maka Roh Allah menghinggapi dia. Lalu ia mengucapkan sanjak, katanya, "Inilah tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap. Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel! Laksana lembah yang membentang luas, laksana taman di tepi sungai, laksana pohon gaharu yang di taman Tuhan, laksana pohon ara di tepi air. Seorang pahlawan tampil dari wangsanya memerintah bangsa yang tak terbilang banyaknya. Rajanya akan naik tinggi melebihi Agag, dan kerajaannya akan dimuliakan."
Kemudian diucapkannya lagi sanjaknya, "Inilah tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka maanya, tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang memperoleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap. Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang. Aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat: sebuah bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel; ia meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set." |
|
Mazmur Tanggapan (Mzm 25:4b-5b.6-7c.8-9; R: 4b)
Ref: Tunjukkanlah lorong-lorongMu kepadaKu, ya Tuhan.
- Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorongMu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaranMu dan ajarlah aku, sebab Engkau lah Allah yang menyeamatkan daku.
- Ingatlah segala rahmat dan kasih setiaMu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda, dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setiaMu.
- Tuhan itu baik dan benar, sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang bersahaja.
|
|
Dari manakah pembaptisan yang diberikan Yohanes? (Mat 21:23-27)
Pada suatu hari Yesus masuk ke bait Allah. Ketika Ia sedang mengajar, datanglah imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi kepadaNya; mereka bertanya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu?” Jawab Yesus kepada mereka, “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu, dan jika kalian memberi jawabannya, Aku pun mengatakan kepada kalian dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Nah, dari manakah pembaptisan yang diberikan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?”
Mereka lalu berunding satu sama lain, “Jika kita katakan, ‘Dari surga,’ Ia akan berkata kepada kita, ‘Kalau begitu , mengapa kalian tidak percaya kepadanya?’ Tetapi jika kita katakan, ‘Dari manusia,’ kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes itu nabi.” Mereka lalu menjawab, “Kami tidak tahu.” Maka Yesus pun berkata kepada mereka, ‘Jika demikian, Aku pun tidak mau mengatakan kepada kalian dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” |
|
|
|
|
HARI SEBELUMNYA | INDEX | HARI BERIKUTNYA |
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta) |