Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang (1 Yoh 2:3-11)
Saudara-saudara terkasih, inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata “Aku mengenal Allah” tetapi tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta, dan tidak ada kebenaran di dalam dia. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu kasih Allah sungguh sudah sempurna; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Allah. Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Allah, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
Saudara-saudara terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu; perintah ini telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang melenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barangsiapa berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. |
|
PERTEMUAN Simeon dan pasangan muda, Yusuf dan Maria, penuh dengan ramalan yang indah, mulia, memberI harapan akan kebahagiaan dan kemuliaan, sekaligus peringatan akan buah-buah penderitaan yang harus ditanggung. “Mataku telah melihat keselamatan yang datang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa”, kata Simeon memuji Tuhan sambil menatang Yesus di tangannya. Matanya sudah mulai kabur, tetapi mata rohaninya begitu tajam dan mampu membaca siapa Yesus. Tangannya sudah mulai gemetar, tetapi dengan sukacita menatang si Bayi terjanji; dan dengan penuh keharuan hati seorang pria uzur yang rindu akan keselamatan bagi Israel, ia melihat aura penderitaan yang bakal menaungi Maria. “Sebilah pedang akan menembus jiwamu sendiri”, kata Simeon (Luk 2:35).
TRADISI rohani Gereja lalu menuliskan pedang yang menembus jiwa Maria sebagai bagian dari pelatihan rohani bagi umat beriman. Ada tujuh pedang kedukaan itu, yakni (1) ramalan Simeon (Luk 2:35); (2) pengungsian ke Mesir (Mat 2:13-15); (3) Yesus hilang di Yerusalem (Luk 2:41-52); (4) jalan salib Yesus ke Golgota (Yoh 19:16-18.25-27); (5) Yesus wafat di salib (Yoh 19:28-30); (6) Maria menerima jenazah Yesus di pangkuannya (Yoh 19:38-40); dan (7) Yesus dikuburkan (Yoh 19:41-42). Secara pribadi, saya percaya, bahwa kedukaan Maria jauh lebih besar daripada itu. Ia satu-satunya manusia yang menyertai Yesus di sepanjang hidupnya, mulai detik dikandung dalam rahuim sampai detik akhir nafas dan dikuburkan dalam rahim ibu pertiwi. Namun, bagi orang yang setia pada salib, bukankah Tuhan menjanjikan keselamatan?
TELADAN besar yang dapat kita ambil dari refleksi ini ialah, betapa pentingnya berlaku setia pada perutusan Tuhan, walaupun untuk itu ada banyak konsekuensi berupa penderitaan, penolakan dan penganiayaan yang harus ditanggung. Sebagai murid Kristus, kita tidak dapat berharap diperlakukan lebih istimewa daripada Yesus sendiri. Jika Yesus sendiri disalibkan, mengapa kita merasa berhak dipermuliakan di atas tahta mulia, kursi empuk, kekuasaan besar, kekayaan melimpah, dan sebagainya? Kedukaan Maria adalah kedukaan kita juga. Mari berjalan bersama Kristus di jalan salibNya. (ap)
Kiranya sukacita dalam penantian menjadi karunia bagi kami, ya Tuhan, agar hati dan budi kami terarah pada rencanaMu. Amin!
(c) 2016 twm
|
 |
Mazmur Tanggapan (Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6; R: 11a)
Ref: Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai!
- Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, menyanyilah bagi Tuhan, hai seluruh bumi! Menyanyilah bagi Tuhan, pujilah nama-Nya!
- Kabarkanlah dari hari ke hari keselamatan yang datang dari pada-Nya, ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, kisahkanlah karya-karya-Nya yang ajaib di antara segala suku.
- Tuhanlah yang menjadikan langit, keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan hormat ada di tempat kudus-Nya.
|
|
Kristus cahaya para bangsa (Luk 2:22-35)
Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk oleh orangtuaNya untuk melakukan apa yang ditentukan hukum Taurat, Simeon menyambut Anak itu dan menatangNya sambil memuji Allah, katanya, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu, Israel.”
Yusuf dan Maria amat heran akan segala sesuatu yang dikatakan tentang Kanak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
|
|