Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Oktober 2016
  MASA BIASA PEKAN 28
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
25 26 27 28 29 30
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
  Minggu, 9 Oktober 2016
   
 

SESUDAH MELIHAT DIRINYA SEMBUH, ORANG SAMARIA ITU KEMBALI SAMBIL MEMULIAKAN ALLAH DAN BERSUJUD DI DEPAN YESUS

 
 
 
2 Raj 5:14-17 | Mzm 98:1-4; R.2b | 2 Tim 2:8-13 | Luk 17:11-19

Naaman kemlai kepada Elisa, abdi Allah itu, dan memuji Tuhan (2 Raj 5:14-17)

Sekali peristiwa, turunlah Naaman, panglima raja Aram, ke sungai Yordan, lalu membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai itu, sesuai dengan perkataan Elisa, abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak, dan ia menjadi tahir. Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Sesampainya di sana, majulah ia ke depan Elisa dan berkata, "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini!" Tetapi Elisa menjawab, "Demi Tuhan yang hidup yang aku layani, aku tidak akan menerima apapun." Walaupun Naaman mendesaknya, Elisa tetap tidak mau menerima sesuatu. Akhirnya berkatalah Naaman, "Jikalau demikian, berikanlah kepada hambamu ini tanah sebanyak dapat diangkut oleh sepasang bagal, sebab hambamu ini tidak lagi akan mempersembahkan kurban bakaran atau kurban sembelihan kepada allah lain, kecuali kepada Tuhan."

 

UCAPAN terima kasih itu sangat sederhana. Hanya dua kata yang terucap, atau tertulis dalam selembar kartu pos, sms atau WA, email dan aneka media lainnya. Walaupun sederhana seperti itu, tetap ada orang yang tidak mau melakukannya. Ternyata di balik dua kata ini terkandung nilai-nilai luhur yang dalam. Pertama adalah penghargaan terhadap orang yang telah berbuat baik. Kedua, kerendahan hati orang yang mengucapkannya, yang mengakui, bahwa ada orang lain berperanan di dalam hidupnya. Ketiga, benih relasi yang baik di masa depan, karena orang yang menghargai dan dihargai itu sama-sama menyadari keluhuran budi pihak lain. Orang dengan gembira mengembangkan relasi atas kesadaran tersebut. Ucapan syukur ini yang hendak kita jadikan tema refleksi hari ini.

Naaman, perwira raja Aram, menandai ucapan syukurnya dengan janji, bahwa selanjutnya dia tak akan membawa korban, baik korban bakaran maupun korban sembelihan, kepada allah lain selain Tuhan di Israel. Berkat karunia Tuhan, Naaman tidak hanya disembuhkan dari sakit kusta tetapi diberi iman yang baru. Karunia serupa turun ke atas orang Samaria, yang bersama dengan sembilan orang kusta lain, datang kepada Yesus dan memohon bantuan kesembuhan. Yesus menjawabi permohonan mereka. Orang Samaria yang kembali untuk mengucapkan syukur mendapat peneguhan dan berkat khusus dari Yesus. "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau", kata Yesus. Saya yakin, kata-kata ini akan selalu dikenang di dalam hidup selanjutnya. Dan bagi Paulus, tanda syukur terbaik ialah berlaku setia pada Kristus, karena Kristus telah setia kepada dirinya. Jika Tuhan yang tak berdosa mau berkorban, tak ada alasan bagi manusia berdosa untuk menolak berkorban.

Dari Tuhan, kita mengalami perwujudan cinta tanpa pamrih, di mana Tuhan memberikan segalanya demi keselamatan manusia. "Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya", demikian kata St. Paulus. Betapa idealnya kalau kita manusia pun dapat mewujudkannya. Akan tetapi pada tingkatan manusiawi, kita masih tetap ada pada standar memberi untuk menerima. Cinta yang terdalam sekalipun selalu disertai harapan, agar kita menerima balasan cinta tersebut, walaupun dengan cara yang berbeda. Karena itu, mari kita belajar saling menghargai, agar cinta manusiawi kita bertumbuh menyerupai kasih Tuhan. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, semoga Engkau menemukan kami layak di hadapan tahtaMu, karena kami menghayati Sabda-Mu. Amin!

(c) 2016 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 98:1-4; R: lih. 2b)

Ref: Tuhan telah menyatakan keselamatan yang dari pada-Nya, di hadapan para bangsa.

  1. Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib, keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
  2. Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
  3. Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-sorailah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah dan bermazmurlah.
 

Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Kristus (2 Tim 2:8-13)

Saudaraku terkasih, ingatlah akan ini: Yesus Kristus, keturunan Daud, yang telah bangkit dari antara orang mati, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pewartaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi sabda Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka pun memperoleh keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal. Bernarlah sabda ini: Jika kita mati dengan Kristus, kita pun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.

 

Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini? (Luk 17:11-19)

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa, datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak, "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Yesus lalu memandang mereka dan berkata, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara dalam perjalanan, mereka menjadi tahir. Seorang dari antara mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini? Lalu Yesus berkata kepada orang itu, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge