Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Februari 2016
  MASA BIASA PEKAN 5
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
31 1 2 3 4 5
28 29 1 2 3 4 5
  Minggu, 7 Februari 2016
   
 

SESUDAH MENYAKSIKAN SEMUA ITU, MEREKA PUN MENINGGALKAN SEGALA SESUATU LALU SEGERA MENGIKUTI YESUS

 
 
 
 
Yes 6:1-2a.3-8 | Mzm 138:1-5.7c-8; R.1c | 1 Kor 15:1-11 | Luk 5:1-11

Inilah aku, utuslah aku (Yes 6:1-2a.3-8)

Dalam tahun wafatnya Raja Uzia, aku, Yesaya, melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para serafim berdiri di sebelah atasNya, masing- masing mempunyai enam sayap. Mereka berseru seorang kepada yang lain, "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya." Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan oleh suara orang yang berseru itu, dan rumah itu pun penuhlah dengan asap.
Lalu aku berkata, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam!" Tetapi seorang dari para serafim itu terbang mendapatkan aku. Di tangannya ada bara api yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuh bara api itu pada mulutku serta berkata, "Lihat, bara ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata, "Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang akan pergi atas namaKu?" Maka aku menjawab, "Inilah aku, utuslah aku!"

PERJALANAN hidup seseorang bisa berubah sama sekali arahnya dari rencana semula, ketika ia mengalami sebuah peristiwa yang mengubah diri dan pandangan hidupnya. Seorang misionaris tidak bisa lagi percaya akan Allah yang berbelas kasih dan melindungi umatNya, ketika ia menyaksikan sebagian besar warga parokinya menjadi korban gelombang pasang laut (tsunami). Butuh konseling intensip dan waktu lama sampai ia kembali ke iman akan Tuhan dan melanjutkan pelayanannya. Ada kaum fanatik yang hendak mengebom tempat ibadat tertentu membatalkan niatnya, hanya karena ketika ia hendak masuk tempat ibadat tersebut, ia disalami dan diterima dengan ramah. Baginya, tak mungkin orang-orang di dalam tempat ibadat itu jahat, lalu mengapa ia harus membunuh mereka. Kita bisa men- deretkan banyak kisah yang memberi gambaran defining moment yang mengubah hidup seseorang.

Bacaan-bacaan hari ini menggarisbawahi defining moment tersebut, yang mengubah gaya hidup seseorang, dari orang biasa menjadi utusan Tuhan yang siap berkarya demi keselamatan sesama. Yesaya mengalami sebuah karunia mistik, melihat Tuhan dalam kebesaranNya di atas takhta dengan dikelilingi oleh para serafim. Pengalaman penyucian dirinya membuat ia tak ragu lagi menerima tawaran menjadi utusan Tuhan. "Inilah aku, utuslah aku", kata Yesaya. Selanjutnya mujizat penangkapan ikan di Danau Galilea menjadi pengalaman penting penentu masa depan Petrus dan teman- temannya. Sesudah menghela perahu dan jala ke darat, mereka langsung meninggalkan semuanya dan mengikuti Yesus. Dan akhirnya, penampak- an diri Yesus pada Paulus menjadi titik balik perubahan peranannya, dari seorang penganiaya jemaat menjadi rasul yang militan. Ia menyebut diri sebagai anak yang lahir sebelum waktunya, karena ia sama sekali belum siap ketika dipanggil Tuhan. Apapun bentuk panggilan itu, muaranya sama, yakni menjadi utusan Tuhan pewarta firmanNya.

Sebagai orang beriman kita diajak untuk merenungkan saat-saat penentu perjalanan hidup kita, di mana Tuhan, dengan caraNya sendiri, berbicara kepada kita. Saat-saat itu mungkin dalam doa, pengalaman kebaikan atau tragedi yang mengubah cara pandang kita tentang hidup. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai pengalaman luar biasa. Karena itu, alangkah baiknya kalau kita memberi makna khusus bagi pengalaman biasa sehari- hari, dan menjadikannya sebagai defining moment kehidupan rohaniah kita. Tuhan bisa berbicara kepada kita, melalui pengalaman yang paling kecil dan sederhana sekalipun. Janganlah mengabaikannya, karena itu mungkin menjadi titik balik perjalanan hidup anda. (ap)

Tuhan, beri kami kepekaan hati, agar kami mampu memahami rencanaMu, dalam peristiwa hidup kami sehari-hari.

(c) 2016 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 138:1-5.7c-6; R: 1c)

Ref: Di hadapan para dewata aku hendak bermazmur bagiMu, ya Tuhan.

  1. Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap hati, sebab Engkau mendengarkan kata-kata mulutku. Di hadapan para dewata aku akan bermazmur bagiMu, aku hendak bersujud ke arah baitMu yang kudus.
  2. Aku hendak memuji namaMu oleh karena kasihMu dan oleh karena setiaMu, sebab Kaubuat nama dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari ini aku berseru, Engkau pun menjawab aku. Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.
  3. Semua raja di bumi akan bersyukur kepadaMu, ya Tuhan, sebab mereka mendengar janji dari mulutMu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan Tuhan, sebab besarlah kemuliaan Tuhan.
  4. Tangan kananMu menyelamatkan daku; Tuhan akan menyelesaikan segalanya bagiku! Ya Tuhan, kasih setiaMu kekal abadi, janganlah Kautinggalkan perbuatan tanganMu.
 

Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kamu mengimani (1 Kor 15:1-11)

Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kamu terima dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu ber- pegang teguh padanya, sebagaimana kuwartakan kepadamu, kecuali kalau kamu sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah dimakamkan, dan pada hari yang ketiga telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa ia telah menampakkan diri kepada Kefas, dan kemudian kepada kedua belas muridNya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus, kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa dari antaranya sudah meninggal dunia. Selanjutnya Yesus menampakkan diri kepada Yakobus, lalu kepada semua rasul. Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya; karena aku adalah yang paling hina dari antara semua rasul, dan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidaklah sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukan karena aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, entah aku entah mereka, begitulah kami mengajar, dan begitu pula lah kamu mengimani.

 

Mereka meninggalkan segala sesuatu lalu mengikuti Yesus (Luk 5:1-11)

Sekali peristiwa, Yesus berdiri di pantai danau Genasaret. Banyak orang mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Yesus melihat dua buah perahu di tepi pantai. Nelayan- nelayannya telah turun dan sedang membasuh jala. Yesus naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu itu sedikit jauh dari pantai. Lalu Yesus duduk dan mengajar banyak orang dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Yesus berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi karena perintahMu, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-teman di perahu lain, supaya mereka itu datang, lalu mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Melihat hal itu, Simon Petrus tersungkur di depan Yesus dan berkata, "Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdosa." Sebab Simon dan teman- temannya takjub karena banyaknya ikan yang mereka tangkap. Demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Yesus lalu berkata kepada Simon, "Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia." Sesudah menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus.


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge