Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
September 2017
  MASA BIASA PEKAN 25
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
          1
24 25 26 27 28 29 30
  Minggu, 24 September 2017
   
 

KARENA BAGIKU HIDUP ADALAH KRISTUS, MAKA KEHADIRANKU DI DUNIA BERARTI BEKERJA UNTUK MENGHASILKAN BUAH

 
 
 
Yes 55:6-9 | Mzm 145:2-3.8-9.17-18; R: 18a | Flp 1:20c-24.27c | Mat 20:1-16a

RancanganKu bukanlah rancanganmu (Yes 55:6-9)

Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepadaNya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya. Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengasihaninya; baiklah ia kembali kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpah. “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu”, demikian firman Tuhan. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalanKu menjulang di atas jalanmu, dan rancanganKu di atas rancanganmu.”

KEHIDUPAN membiara dengan menghayati kaul-kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, mungkin dianggap aneh oleh banyak orang, termasuk oleh orang-orang Katolik sendiri. Banyak dari antara biarawan-biarawati ini berpendidikan tinggi, ahli dalam bidang tertentu, yang jika bekerja di lingkungan biasa mendapat penghasilan yang besar. Seorang donatur rumah sakit sebuah komunitas religius mengunjungi tempat seorang biarawati, yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan, bekerja. Melihat dedikasnya dan mendengar ia bekerja tanpa gaji untuk dirinya, si donatur berkata, "Hanya Tuhan yang bisa menggerakkan orang dengan profesi menjanjikan seperti ini, untuk meninggalkan segala sesuatu dan mempersembahkan diri melayani orang."

PENGALAMAN biarawati ini mengingatkanku pada wahyu Tuhan yang turun dengan pengantaraan Nabi Yesaya. "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah jalan-Ku menjulang di atas jalanmu, dan rancangan-Ku di atas rancanganmu" (Yes 55:9). Ukuran yang kita pakai tidak dipergunakan oleh Tuhan, sehingga keputusan-Nya mungkin tidak kita pahami dengan baik. Yesaya hanya bisa menjalani apa yang menjadi kehendak Tuhan, karena ia tidak lagi mempunyai kuasa atas dirinya sendiri, melainkan Tuhan. Bukankah Nabi Yunus hendak berlari dari Tuhan, tetapi tidak dapat? Karena itu, ketika Yesus menyampaikan perumpamaan tentang upah pekerja kebun anggur sedinar sehari, kita memandangnya dari segi "rancangan-Ku bukanlah rancanganmu". Pekerja pertama bekerja atas dasar kesepakatan dengan pemilik kebun anggur. Upah mereka sedinar sehari. Tapi semua pekerja yang datang kemudian bekerja atas dasar belas kasih pemilik kebun anggur. Dan belas kasih itu ternyata sama besar dengan kewajiban yang diberikan kepada pekerja atas dasar kesepakatan. Kelihatannya tidak adil, tetapi dari sisi penyelenggaraan Ilahi, belas kasih Tuhan tidak dapat digugat oleh hukum manusiawi belaka. Jika seorang pemilik usaha, karena belas kasih, memberi uang kepada tukang sapu kantor sebesar gaji manajernya, apakah masih dapat dikatakan tidak adil?

TUJUAN akhir semua orang beriman sama, yakni keselamatan di dalam Kerajaan Kekal. Kita berdoa selain untuk diri kita juga bagi orang-orang lain agar diselamatkan Tuhan. Karena itu, kita juga perlu membuka mata hati, bahwa berka doa kita, bisa juga Tuhan memberi anugerah kepada orang lain sebesar yang Ia berikan kepada kita, bahkan lebih besar. Jika itu terjadi, bukankah doa kita terjawab? Tak ada alasan untuk iri hati. Untuk itu kita perlu mengubah orientasi hidup, seperti yang ditulis Paulus kepada umat di Filipi, "Bagiku hidup adalah Kristus" (Fil 1:21). Ketika Kristus menjadi pusat hidup, pencapaian duniawi lain menjadi hal sekunder saja. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami dengan rendah hati menerima karunia-Mu dan belajar tidak iri hati kepada sesama kami. Amin!

(c) 2017 twm


Mazmur Tanggapan (Mzm 145:2-3.8-9.17-18; R: 18a)

Ref: Tuhan mendengarkan doa orang beriman.

  1. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan memuliakan namaMu untuk selama-lamanya. Besarlah Tuhan dan sangat terpuji; kebesaranNya tidak terselami.
  2. Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikanNya.
  3. Tuhan itu adil dalam segala jalanNya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatanNya. Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepadaNya, pada setiap orang yang berseru kepadaNya dalam kesetiaan.

Bagiku hidup adalah Kristus (Flp 1:20c-24.27a)

Saudara-saudara, dengan nyata Kristus dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: Aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, ini memang jauh lebih baik; tetapi demi kamu lebih berguna aku tinggal di dunia ini. Maka hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.

 

Iri hatikah engkau karena aku murah hati? (Mat 20:1-16a)

Sekali peristiwa, Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-muridnya. “Hal Kerajaan Surga itu sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, ‘Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.’ Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula dan berbuat seperti tadi. Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, ‘Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?’ Jawab mereka, ‘Tidak ada orang yang mengupah kami.’ Kata orang itu, ‘Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.’
Ketika hari sudah malam, berkatalah tuan itu kepada mandurnya, ‘Panggillah sekalian pekerja itu dan bayarlah upahnya mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu.’ Maka datanglah mereka, mulai dari yang bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, ‘Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.’ Tetapi tuan itu menjawab salah seorang dari mereka, ‘Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah! Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?’ Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir.”

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge