Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
September 2017
  MASA BIASA PEKAN 22
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
          1
24 25 26 27 28 29 30
  Minggu, 3 September 2017
  St. Gregorius Agung, paus dan pujangga gereja
 

IBADAHMU YANG SEJATI IALAH KETIKA KAMU MEMPERSEMBAHKAN DIRIMU KEPADA ALLAH SEBAGAI PERSEMBAHAN YANG HIDUP

 
 
 
Yer 20:7-9 | Mzm 63:2-6.8-9; R.2b | Rm 12:1-2 | Mat 16:21-27

Firman Tuhan telah menjadi cela dan cemooh bagiku sepanjang hari (Yer 20:7-9)

Kata Nabi Yeremia, “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku Kaubujuk. Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semua orang mengolok-olokkan aku. Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa aku berseru, ‘Kelaliman! Aniaya!’ Sebab firman Tuhan telah menjadi cela dan cemooh bagiku sepanjang hari. Tetapi apabila aku berpikir, ‘Aku tidak mau mengingat Tuhan, dan tidak mau mengucapkan firman demi namaNya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyapa, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.”

REUNI bersama teman-teman seangkatan imamat menjadi forum sharing iman dan misi yang sangat inspiratip, meneguhkan, tapi juga penuh nostalgia indah dari masa-masa pendidikan. Yang paling saya hargai dari sharing ini adalah sikap realistis terhadap salib misioner yang diletakkan Tuhan di atas bahu masing-masing. Salib itu berat, seringkali hampir tak tertanggungkan. Ada yang hampir mati dibunuh, yang dirampok, yang lain dianiaya, ditolak dan dicemooh. Tetapi tak ada yang berpikir untuk meninggalkan salib. Semua bertekad terus memikul salib misioner itu, berharap agar Tuhan yang memberi salib ini juga memberi energi yang lebih banyak agar salib itu dapat dipanggul dengan setia.

KESELAMATAN yang direncanakan Tuhan merupakan jalan yang dipenuhi salib. Tak ada keselamatan yang diraih tanpa salib. Nabi Yeremia mengeluh kepada Tuhan, bahkan merasa diri diperdayai oleh Tuhan. Ia banyak menderita karena berusaha untuk setia pada tugas yang diserahkan Tuhan kepadanya. Kesetiaan itu telah membuat ia menuai cemooh dan perlawanan, bukan pujian dan kemudahan hidup. Namun toh Yeremia terus setia pada jalan itu, sadar bahwa Tuhan akan menghantarnya sampai di ujung jalan keselamatan. Kesadaran akan salib itu membuat Yesus juga mengajar para muridnya, bahwa mereka hanya dapat menjadi murid yang layak kalau berlaku setia pada salib yang dianugerahi Tuhan kepada mereka. Untuk itu Yesus sendiri memberi contoh. Ia hendak pergi ke Yerusalem, yang berarti pergi ke lingkaran kekuasaan politik dan agama, yang tidak akan segan menjatuhkan hukuman salib kepada diri-Nya. Namun Yesus mau menanggung semua itu, dengan harapan, contoh yang diberikan-Nya itu akan menggugah umat manusia, agar menghargai rencana Tuhan dan menanggapinya secara tepat.

BAGAIMANA cara kita mendidik diri agar mampu menghayati jalan salib yang dianugerahkan Tuhan kepada kita? Pertama-tama, kita mulai dengan diri kita sendiri. Tuhan menciptakan jiwa dan raga kita agar dipergunakan sesuai dengan rencana Tuhan. Oleh dosa, manusia mengubah tubuhnya, yang adalah kenisah Roh Kudus, menjadi alat pemuas nafsu sendiri. Kepada umat di Roma, Santo Paulus mengingatkan agar mereka menyadari kekudusan tubuhnya dan mempersembahkannya kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup. Itu bukan perkara mudah, karena persembahan yang layak ialah yang kudus. Di sini tubuh harus dibebaskan dari dosa. Caranya ialah manusia harus hidup dengan menjauhi dosa. Itu jelas sebuah korban, karena manusia cenderung hidup dengan memuaskan keinginan tubuh itu sendiri. Kedua, kita berusaha merawat jiwa agar selalu teguh di jalan keselamatan dan menjadi sumber kekuatan tubuh mengatasi tantangan dan godaan. Kita berdoa, bermeditasi, menerima sakramen-sakramen, mengolah pengalaman hidup dan aneka latihan rohaniah lainnya. Jiwa dan raga yang sehat akan menjadikan kita pribadi yang seimbang, layak di mata Tuhan dan sesama manusia. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, sadarkalah kami agar selalu setia memelihara jiwa dan raga kami, sampai menggapai keselamatan abadi. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 63:3-6.8-9; R: 2b)

Ref: Jiwaku haus padaMu, Tuhan, ingin memandang wajah Allah.

  1. Ya Allahku, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus akan dikau, tubuhku rindu kepadaMu, seperti tanah kering dan tandus yang tiada berair.
  2. Demikianlah aku rindu memandangMu di tempat kudus sambil melihat kekuatan dan kemuliaanMu. Sebab kasih setiaMu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Dikau.
  3. Aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi namaMu. Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyang-kan, bibirku bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.
  4. Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayapMu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepadaMu, tangan kananMu menopang aku.

Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup (Rm 12:1-2)

Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadahmu yang sejati! Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berIubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, mana yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

 

Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya (Mat 16:21-27)

Sekali peristiwa, Yesus menyatakan kepada murid-muridNya, bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau memikirkan bukan yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia.
Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barangsiapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikan sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan BapaNya diiringi malaikat-malaikatNya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya.”

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge