Juni 2015 |
|
MASA BIASA PEKAN 12 |
|
|
|
| |
|
| Iman Dalam Kerendahan Hati |
PERNAH saya berpikir, mengapa Tuhan tidak berhenti saja memakai Israel sebagai model bagi bangsa-bangsa, jika umat pilihanNya itu tidak setia? Tuhan sudah mengirim banyak utusan ke tengah bangsa ini. Bapa-bapa bangsa dipilih dan diberi tanggung jawab besar, seperti Abraham, Ishak dan Yakub. Nabi-nabi besar dipanggil dan diutus, seperti Samuel, Elia, Eliza, Ezekiel, Yesaya, Yeremia, dan sebagainya. Begitu juga utusan lain seperti para raja terkenal, seperti Daud dan Salomo. Bahkan ketika kepenuhan keselamatan tiba, Sang Mesias pun lahir dari bangsa ini, yakni Yesus dari Nazaret, seorang keturunan Daud. Toh mereka tak juga berubah. Namun di balik refleksi bernada protes ini, saya juga menemukan, bahwa di tengah ketidaksetiaan Israel, Tuhan membuka mata bangsa lain sehingga mereka juga menyadari, bahwa keselamatan itu juga milik mereka, jika mereka membuka diri bagi Sabda Tuhan.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi, menjelang komunio kita berdoa dengan rendah hati, “Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh.” Doa ini justru datang dari seorang perwira tentara pendudukan, orang kafir di mata bangsa Israel (bdk. Mat 8:8). Namun ia dipilih karena satu alasan, ia tidak meninggikan diri di hadapan Tuhan. Inilah pola iman yang perlu kita perkuat dalam hidup hari ini. Hanya dengan kerendahan hati seperti ini, iman kita dimurnikan dan diberi daya gugah yang lebih tinggi, sehingga iman itu tidak hanya menjadi berkat bagi diri kita tetapi juga bagi sesama kita.
Ada banyak orang dari antara kita yang memiliki kedudukan dan peranan yang tinggi dan penting di dalam masyarakat. Karena itu mereka banyak mendapat hak dan perlakuan khusus. Sering kali, mereka juga merasa, bahwa hak dan perlakuan khusus itu akan melekat pada diri mereka seumur hidup. Mereka bertumbuh menjadi sombong, ingat diri, penuntut dan tidak belajar untuk rendah hati. Kualitas pribadi semacam ini sangat tidak disukai oleh Tuhan. Tuhan menghendaki kerendahan hati. Ketika Ia memanggil dan mengutus para murid, kerendahan hati menjadi syarat utama. Mengapa? Karena hanya orang-orang yang rendah hati yang sanggup merasakan dan memahami, mengapa Yesus harus menjadi manusia dan wafat di salib. Kerendahan hati Tuhan ini akan meresap ke dalam dirinya, sehingga ketika salib perutusan itu turun ke atas dirinya, ia dengan sigap menerima salib itu dan menjalankannya dengan sepenuh hati. Anda dan saya tentu ingin menjadi salah satu dari orang yang sigap tersebut. Maka marilah kita melatih diri agar selalu tanggap terhadap Firman Tuhan. (ap)
- Yakinkah anda, kalau anda memiliki iman yang kuat di hadapan Tuhan?
- Apa yang perlu anda lakukan saat ini untuk mengembangkan iman anda?
(c) bbss 2015 aurelius pati soge |
|
| REFLEKSI BULAN INI |
Mg |
Sn |
Sl |
Rb |
Km |
Jm |
Sb |
| 31 |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| 28 |
29 |
30 |
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
Sabtu, 27 Juni 2015 |
|
|
| |
St. Sirilus dari Alexandria, imam dan pujangga gereja |
|
| |
YESUS BANGUN, MENGHARDIK BADAI ITU, SEHINGGA DANAU PUN MENJADI
SANGAT TENANG |
|
| |
|
| |
|
| |
|
| |
Kej 18:1-15 | Luk 1:46-50.53-55 | Mat 8:5-17
|
|
|
|
Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan! Aku akan kembali kepadamu, dan Sara akan mempunyai anak laki-laki
(Kej 18:1-15)
Sekali peristiwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon terbantin di Mamre. Waktu itu Abraham sedang duduk di pintu kemahnya di kala hari panas terik. Ketika ia mengangkat mata, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Melihat mereka, ia bergegas dari pintu kemahnya menyongsong mereka. Ia bersujud dan berkata, “Tuanku, jika aku mendapat kasih Tuan, singgahlah di kemah hambamu ini. Biarlah diambil sedikit air, basuhlah kaki Tuan, dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini, biarlah hamba mengambil sepotong roti, agar Tuan-Tuan segar kembali. Kemudian bolehlah Tuan-Tuan melanjutkan perjalanan. Sebab Tuan-Tuan telah datang ke tempat hambamu ini.” Jawab mereka, “Buatlah seperti yang engkau katakan.”
Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata, “Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar.!” Lalu Abraham berlari ke lembu sapinya, mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya, dan memberikannya kepada seorang bujangnya yang segera mengolahnya. Kemudian Abraham mengambil dadih, susu dan anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya kepada mereka. Abraham sendiri berdiri dekat mereka di bawah pohon itu sementara mereka makan.
Sesudah makan, bertanyalah mereka kepada Abraham, “Di manakah Sara, isterimu?” Jawab Abraham, “ Di sana, di dalam kemah.” Maka berkatalah Ia, “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau. Pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Saat itu Sara mendengarkan pada pintu kemah di belakangnya. Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid. Maka tertawalah Sara dalam hati, katanya, “Akan berahikah aku, setelah aku menjadi layu, sedangkan tuanku pun sudah tua?” Lalu bersabdalah Tuhan kepada Abraham, “Mengapakah Sara tertawa dan berkata, ‘Sungguhkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua?’ Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan dikau. Pada waktu itulah sara mempunyai seorang anak laki-laki.” Tetapi Sara menyangkal, katanya, “Aku tidak tertawa,” sebab ia takut. Tetapi Tuhan bersabda, “Tidak! Memang engkau tertawa!”
|
|
Mazmur Tanggapan (Luk 1:46-47.48-49.50.53.54-55)
Ref:
Tuhan ingat akan kasih sayang-Nya.
- Aku mengagungkan Tuhan, hatiku beruka ria karena Allah, penyelamatku.
- Sebab Ia memperhatikan daku, hamba-Nya yang hina ini. Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa. Sebab perbuatan besar dikerjakan-Nya bagiku oleh Yang Mahakuasa; kuduskanlah nama-Nya.
- Kasih sayang-Nya turun-temurun kepada orang yang takwa. Orang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan; orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong.
- Menurut janji-Nya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hamba-Nya. Demi kasih sayang-Nya kepada Abraham serta keturunanya untuk selama-lamanya.
|
|
Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat, dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub (Mat 8:5-17)
Pada suatu hari Yesus masuk ke kota Kapernaum. Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan mohon kepadaNya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi perwira itu berkata kepadaNya, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, ‘Pergi!’ maka ia pergi; dan kepada seorang lagi, ‘Datang!’, maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia mengerjakannya.”
Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikutiNya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun diantara orang Israel. Aku berkata kepadamu, banyak orang akan datang dari Timur dan dari Barat dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu sendiri akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegangNya tangan wanita itu, lalu lenyaplah demamnya. Wanita itu lalu bangun dan melayani Yesus. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan, dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu, dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah sabda yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”
|
|
|
|
HARI SEBELUMNYA | INDEX | HARI BERIKUTNYA |
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta) |
|