Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Oktober 2017
  MASA BIASA PEKAN 26
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
1 2 3 4 5 6
29 30 31        
  Kamis, 5 Oktober 2017
   
 

DALAM NAMA YESUS, BERTEKUKLAH
SEGALA BANGSA DAN MENGAKUI, BAHWA YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN

 
 
 
Neh 8:1-5a. 6-7.8b-13 | Mzm 19:8-11 | Luk 10 :1-12

Ezra membuka Kitab dan memuji Tuhan; maka seluruh umat menjawab, “Amin! Amin! (Neh 8:1-5a.6-7.8b-13)

Sesudah kembali dari pembuangan, orang-orang Israel telah menetap kembali di kota-kota mereka. Lalu pada bulan ketujuh berkumpullah seluruh rakyat di lapangan di muka Gerbang Air di Yerusalem. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab, supaya membawa Kitab Taurat itu ke depan jemaat, pria, wanita dan semua yang dapat mendengar dan mengerti. Ia membacakan beberapa bagian dari kitab itu di halaman di depan Gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di depan pria, wanita dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan Kitab Taurat itu.
Adapun Ezra, ahli kitab, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat khusus untuk peristiwa itu. Ia membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang. Pada waktu ia membuka kitab semua orang bangkit berdiri. Lalu Ezra memuji Tuhan, Allah yang maha agung, dan semua orang menjawab, “Amin! Amin,” sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah Tuhan dengan mauka sampai ke tanah. Para Lewi menjelaskan hukum itu kepada jemaat, sementara rakyat berdiri di tempatnya. Bagian-bagian Kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
Lalu Nehemia, kepala daerah, dan Imam Ezra, ahli kitab, serta orang-orang Lewi yang mengajar jemaat, berkata kepada seluruh hadirin, “Hari ini adalah kudus bagi Tuhan Allahmu. Kalian jangan berduka cita dan menangis!” Karena semua orang itu menangis, ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat. Lalu berkatalah Nehemia kepada mereka, “Pergilah, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis; dan berikanlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa! Sebab hari ini kudus bagi Tuhan kita. Janganlah bersusah hati, tetapi bersukacitalah karena Tuhan, sebab sukacita karena Tuhanlah perlindunganmu.” Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu diam dengan kata-kata, “Tenanglah! Hari ini hari kudus. Jangan bersusah hati!” Maka pergilah semua orang untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala sabda yang diberitahukan kepada mereka.

PARTAI POLITIK memiliki cara-cara propaganda untuk merekrut pendukung fanatik. Ideologi yang ditawarkan dikemas dengan cara yang menyentuh emosi. Orang yang tersulut emosinya akan rela berjuang demi tujuan partai, walau tidak rasional sekalipun. Pada prinsipnya, sekali diterima, ideologi itu akan menjadi pusat hidup, rujukan dalam mengambil keputusan, jiwa dalam hidup sehari-hari, sudut pandang dalam menilai peristiwa dan orang- orang yang terlibat di dalamnya. Dalam skala tertentu dapatlah kita katakan, bahwa ideologi itu telah menjadi "credo"-nya yang menentukan bagaimana ia hidup dan berelasi dengan masyarakat dan alam ciptaan.

ORANG-ORANG Israel yang pulang dari pembuangan merasa perlu menemukan pedoman hidup, mengingat puluhan tahun mereka tercerabut dari akar iman dan budayanya. Pembacaan Taurat oleh Imam Ezra merupakan proses katekisasi bangsa, di mana bersama-sama mereka belajar menemukan pegangan bersama, yakni Firman Tuhan. Nilai-nilai yang mereka temukan pada masa pembuangan harus dimurnikan oleh Hukum Taurat. Pendek kata, Tuhan dan hukum-hukumnya menjadi sandaran mereka dalam situasi apapun. Prinsip hanya bersandar pada Tuhan inilah yang ditegaskan oleh Yesus ketika mengutus tujuh puluh dua murid. Mereka tak boleh membawa apa-apa, ibarat anak domba diutus ke tengah serigala. Dengan tak membawa apa-apa, mereka hanya bisa mengandalkan Tuhan. Tuhan lah yang menggerakkan hati orang-orang baik untuk menerima dan memperhatikan mereka, agar hati dan budi mereka hanya terpusat pada pewartaan Kabar Gembira tentang Kristus, Jalan Keselamatan.

MENGINGAT Firman Tuhan itu pedoman hidup banyak orang yang berziarah ke Rumah Bapa, kita wajib mempromosikannya. Kita berusaha menempatkan Firman itu di tengah hidup banyak orang, agar selanjutnya orientasi hidup dan karya mereka ada pada-Nya saja. Itulah proses "indoktrinasi" iman dalam arti positip. Proses katekisasi ini perlu ditunjang dengan kesaksian hidup, seperti yang ditampilkan oleh tujuh puluh dua murid yang diutus Yesus. Jika kita ingin turut serta membangun Kerajaan Allah, kita perlu membuat dua hal ini urusan kita: pengajaran dan kesaksian. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, biarlah kami menerima dan menghayati Firman Tuhan, agar Kerajaan-Mu semakin ditegakkan di dunia. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 19:8-11; R: 9a)

Ref: Titah Tuhan tepat, menyenangkan hati.

  1. Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh memberikan hikmat kepada orang bersahaja.
  2. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.
  3. Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selama-lamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selalu.
  4. Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Semoga damaimu menyertai dia (Luk 10:1-12)

Pada waktu itu Tuhan menunjuk tujuh puluh dua murid. Ia mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Berkatalah Ia kepada mereka, “Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Sebab itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, agar ia mengirimkan pekerja-pekerja ke tuaian itu. Pergilah! Camkanlah, Aku mengutus kalian seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu, ‘Damai sejahtera bagi rumah ini’ Dan jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal padanya. Tetapi jika tidak, maka salammu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada disitu. Dan katakanlah kepada mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat padamu.’ Tetapi jika kalian masuk ke dalam sebuah kota dan tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah, ‘Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu. Tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat!’ Aku berkata kepadamu, pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu."


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge