Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
September 2016
  MASA BIASA PEKAN 24
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
28 29 30 31 1 2
25 26 27 28 29 30 1
  Rabu, 14 September 2016
  Pesta Salib Suci
 

LEBIH BESAR SUKACITA KARENA SEORANG BERDOSA BERTOBAT DARIPADA ORANG SUCI YANG TIDAK PERLU BERTOBAT

 
 
 
Bil 21:4-9 | Mzm 78:1-2.34-38; R.7b | Flp 2:6-11 | Yoh 3:13-17

Setiap orang yang dipagut ular, jika memandang ular tembaga, ia akan tetap hidup
(Bil 21:4-9)

Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor, mereka berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom. Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa, “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air! Kami telah muak akan makanan hambar ini!” Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu dan memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel itu mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata, “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan supaya dijauhkanNya ular-uar ini dari pada kami.” Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka befirmanlah Tuhan kepada Musa, “Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut ular, jika ia memandangnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang. Maka jika seseorang dipagut ular dan ia memandang ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

 

KEMATIAN Yesus di salib telah mengubah sama sekali makna salib dari arti yang sebenarnya. Salib itu sebetulnya merupakan hukuman yang sangat kejam. Orang yang disalibkan itu dibiarkan mati perlahan-lahan, dihancurkan tidak hanya tubuhnya tetapi juga harga dirinya. Selain dia, keluarganya juga turut terhina oleh hukuman tersebut. Namun kebangkitan Yesus telah mengubah semuanya. Salib tidak lagi menjadi tanda kehinaan melainkan kemenangan. Salib menjadi pusat telaah teologi, spiritualitas, liturgi, seni dan kehidupan sosial. Kaisar Romawi, Konstantinus, bahkan menjadikannya sebagai panji peperangan. Ia berhasil. Sejak itu kekristenan diterima dan diakui hak hidupnya dalam Kekaisaran Romawi. Salib berubah makna menjadi tanda kebanggaan, identitas orang beriman.

Merenungkan salib sebagai identitas iman, kita diajak untuk merenungkan bagaimana Tuhan membalikkan tanda kejam itu menjadi tanda keselamatan, kutuk menjadi berkat, maut menjadi hidup. Musa menegakkan patung ular di padang gurun, sehingga yang digigit ular tedung dan memandangnya, diselamatkan. Ular mengingatkan kita akan penggoda yang menjerat manusia pertama di Taman Eden, namun kini telah menjadi tanda harapan. Demikian juga salib Kristus, pohon baru di Golgotha, mengingatkan kita akan pohon pengetahuan yang buahnya dimakan oleh Adam dan Eva. Kini dari pohon baru itu mengalir rahmat pembawa selamat, karena maut telah dikalahkan dan pintu keselamatan telah dibuka bagi semua orang.

Bagi kita, pesan terkuat dari permenungan ini adalah kewajiban iman yang harus kita penuhi, yakni membaharui diri terus menerus, sehingga walaupun kita sering berdosa dan mengkianati Tuhan, kita tetap bisa bertobat dan kembali kepadaNya. Tobat dan pembaharuan diri inilah yang membuat kita tetap berharga, umat Allah tetap memiliki harapan, Gereja tetap menjadi tanda keselamatan, terutama karena kerelaan umat Allah untuk memgambil bagian dalam salib Kristus. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, oleh salib-Mu kami meraih keselamatan,
buatlah kami setia pada salib kehidupan kami setiap hari. Amin!

(c) bbss 2016 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 78:1-2.34-38; R: 7b)

Ref: Aku wartakan karya agungMu, Tuhan, karya agungMu karya keselamatan.

  1. Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut untuk mengatakan amsal, aku mau menuturkan hikmah dari zaman purbakala.
  2. Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia; mereka berbalik dan mendamakan Allah. Mereka teringat bahwa Allah adalah Gunung Batu mereka, bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.
  3. Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya, dan dengan lidah mereka membohongi Allah. Hati mereka terpaut padaNya, dan mereka tidak setia pada perjanjianNya.
  4. Akan tetapi Allah itu penyayang! Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan amarah-Nya, dan tidak melampiaskan keberanganNya.
 

Yesus merendahkan diri maka Allah sangat meninggikan Dia (Flp 2:6-11)

Saudara-saudara, Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan menganugerahiNya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuklututlah segala yang ada di langit, dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui, Yesus Kristus adalah Tuhan.

 

Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:13-17)

Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus berkata, "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain Dia yang turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harud ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkanNya."


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge