| |
|
| Iman Yang Tulus Memberi Daya Hidup |
POSISI Yairus dan wanita yang sakit perdarahan itu berbeda seperti langit dan bumi. Yairus orang terhormat, sementara perempuan itu bukan siapa-siapa. Yairus kepala rumah ibadat sementara perempuan itu orang pinggir. Namun keduanya disatukan oleh iman yang sama kepada Yesus, Sang Guru, yang penuh kuasa. Pertama-tama, keduanya didorong oleh rasa tak berdaya di hadapan persoalan yang dihadapi. Anak Yairus sakit dan hampir meninggal, sementara perempuan itu sudah bertahun-tahun perdarahan. Rasa tak berdaya ini menghantar keduanya ke hadapan Yesus, perjuangan yang menuntut keberanian dan terutama kerendahan hati. Yairus harus mengakui kemalangannya di hadapan Yesus agar Ia mau menolong dirinya. Perempuan itu pun harus bersikap rendah hati menahan cibiran orang ketika datang kepada Yesus. Dan buah-buah kerendahan hati itu adalah rahmat peneguhan. Yang satu dibebaskan dari sakit pendarahan, yang lain ditolong anaknya sehingga hidup kembali. Keduanya memberi pesan yang sama, yakni iman yang tulus memberi daya hidup.
Belajar dari pengalaman Yairus dan perempuan yang sakit perdarahan, mari kita melakukan pembaharuan iman. Setiap menghadapi kesulitan, janganlah lalai datang dan berserah diri kepada Yesus. Dengan menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan, kita mengakui peranan Ilahi dalam kehidupan kita, menumbuhkan semangat kerendahan hati dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Dengan itu kita menampilkan diri sebagai seorang hamba Allah yang setia, yang siap berlangkah sesuai dengan arahanNya. Tuhan tak pernah membimbing orang menuju kehancuran melainkan selalu menuju keselamatan. (ap)
- Apa pengalaman sulit yang pernah anda hadapi yang membuat anda kehilangan semua harapan?
- Bagaimana anda mencari jalan keluar? Apakah Tuhan dilibatkan di dalam perjuangan tersebut?
(c) 2015 aurelius pati soge |
|
Marilah kita berlari dengan tabah hati dalam perlombaan yang diwajibkan kepada kita
(Ibr 12:1-4)
Saudara-saudara, kita mempunyai banyak saksi bagaikan awal yang mengelilingi kita. Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Dialah yang memimpin kita dalam iman, dan Dialah yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Dengan mengabaikan kehinaan Ia tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ingatlah selalu akan Yesus, yang tabah menanggung bantahan terhadap diriNya, bantahan yang datang dari pihak orang-orang berdosa. Janganlah kamu menjadi lemah dan putus asa, sebab dalam pergumulanmu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. |
|
Mazmur Tanggapan (Mzm 22:26b-28.30-31; R: 26b)
Ref: Orang yang mencari Engkau, ya Tuhan, akan memuji-muji Engkau.
- Nazarku akan kubayar di depan orang-orang yang takwa. Orang miskin akan makan sampai kenyang, orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia; biarlah hati mereka hidup untuk selamanya.
- Segala ujung bumi akan menjadi sadar lalu berbalik kepada Tuhan; segala rumpun bangsa akan sujud menyembah di hadapanNya. Ya, kepadaNya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapanNya akan berlutut semua orang yang telah kembali ke pangkuan pertiwi.
- Dan aku akan hidup bagi Tuhan, anak cucuku akan beribadah kepadaNya. Mereka akan menceriterakan hal ikhwal Tuhan kepada angkatan yang akan datang, dan menuturkan keadilanNya kepada bangsa yang akan lahir nanti. Semua itu telah dikerjakan oleh Tuhan.
|
|
Hai anakKu, Aku berkata kepadamu: Bangunlah! (Mrk 5:21-43)
Sekali peristiwa setelah Yesus menyeberang dengan perahu, datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia. Ketika itu Yesus masih berada di tepi danau. Maka datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah Yairus di depan kakiNya. Dengan sangat ia memohon kepadaNya, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati. Datanglah kiranya, dan letakkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekatNya.
Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh tabib sampai habislah semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya, malah sebaliknya, keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus. Maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. Sebab katanya, “Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.” Sungguh, seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa badannya sudah sembuh dari penyakit itu. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diriNya. Maka Ia berpaling di tengah orang banyak itu dan bertanya, “Siapa yang menjamah jubahKu?” Murid-muridNya menjawab, “Engkau melihat sendiri bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekatMu! Bagaimana mungkin Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Yesus memandang sekelilingNya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Maka perempuan tadi takut dan gemetar sejak ia mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya. Maka ia tampil dan tersungkur di depan Yesus. Dengan tulus ia memberitahukan segala sesuatu kepada Yesus. Maka kata Yesus kepada perempuan itu, “Hai, anakKu, imanmu telah menyelamatkan Engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah mati! Apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Dan tibalah mereka di rumah kepala rumah ibadat. Di sana Yesus melihat orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk, Yesus berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia. Maka Yesus menyuruh semua orang itu keluar. Lalu Ia membawa ayah dan ibu anak itu, dan mereka yang bersama-sama dengan Yesus masuk ke dalam kamar anak itu. DipegangNya tangan anak itu, katanya, “Talita kum,” yang berarti: Hai anak, Aku berkata kepadamu: Bangunlah! Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. |