Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Maret 2017
  MASA PRAPASKAH PEKAN 2
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
      1 2 3
26 27 28 29 30 31  
  Minggu, 12 Maret 2017
   
 

BIARLAH KAMI MENDIRIKAN TIGA KEMAH,
SATU UNTUK ENGKAU, SATU UNTUK MUSA
DAN SATU UNTUK ELIA

 
 
 
Kej 12:1-4a | Mzm 33:4-5.18-20.22; R.22 | 2 Tim 1:8b-10 | Mat 17:1-9

Panggilan Abraham, bapa umat Allah (Kej 12:1-4a)

Di negeri Haran, Tuhan berfirman kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu termasyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan, segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka, berangkatlah Abram sesuai dengan Sabda Tuhan.

 

BANYAK ORANG percaya, bahwa hidup ini ada untuk tujuan tertentu. Bagi penganut paham naturalis, tujuan itu adalah mempertahankan kelangsungan hidup spesies makluk tertentu. Bagi kaum hedonis, hidup ini ada untuk dinikmati pada segala aspeknya. Bagi pegiat politik, tujuan itu adalah untuk meraih kekuasaan, dan seterusnya. Setiap orang dapat membuat definisi apa tujuan hidup. Definisi ini menentukan bagaimana seseorang hidup dan berelasi dengan sesama dan alam sekitar. Pesta seks, alkohol dan berbagai kemewahan merupakan hal biasa bagi kaum hedonis. Memanipulasi psikologi masyarakat untuk membuat isu politik merupakan permainan rutin para politisi, dan seterusnya. Bagi orang Kristiani, apa tujuan hidup? Jawaban kita terletak pada inti iman kita.

SANTO PAULUS menulis kepada Timotius, bahwa Tuhan yang kita imani telah menciptakan kita untuk tujuan mendatangkan hidup. Hidup termaksud bermakna teologis, yakni keselamatan manusia dalam penyelenggaraan Tuhan. Walaupun keselamatan itu lebih menyentuh aspek rohani, efeknya jelas terasa di dalam hidup saat ini, karena untuk mempersiapkan diri memasuki alam keselamatan tersebut, umat Allah perlu menghayati pola hidup yang bersumber dari Firman Tuhan. Karena itu, Abraham dipanggil menjadi bapa umat Allah, karena ia menjadi model bagaimana memgimani Tuhan tanpa syarat, sepenuhnya pasrah pada kehendakNya. Imannya memungkinkan bangsa-bangsa lahir dari darahNya dan terbentuk oleh imannya. Dari keturunannya Israel terbentuk, dan imannya kita sebagai Israel baru juga terbentuk, karena kita mewarisi iman yang sama. Jika umat manusia bisa mempertahankan kesetiaan dalam menghayati dan mewartakan Firman Tuhan, ganjaran yang paling sesuai adalah kemuliaan dalam Kerajaan Surga, seperti yang ditampilkan Yesus dalam penampakan dirinya kepada tiga murid: Petrus, Yakobus dan Yohanes. Inilah alasan kita beriman dan rela menjadi utusan-Nya, melewati peziarahan iman seperti Abraham dan membawa harapan bagi banyak orang.

BERTOLAK DARI pemahaman ini, mari kita membaharui diri. Pertama, mari kita menghargai hidup. Hidup ini adalah sebuah karunia indah dari Tuhan, dianugerahkan untuk sebuah tujuan. Kedua, karena hidup kita bertujuan meraih keselamatan, pola hidup kita janganlah pernah menyimpang dari jalan kebenaran yang difirmankan Tuhan. Keselamatan jiwa jadi prioritas, yang dipersiapkan dari hidup jasmaniah saat ini. Ketiga, hidup kita haruslah menjadi sarana berkat bagi sesama, karena kita berkewajiban menjadi terang bagi orang yang kehilangan makna hidup, agar mereka menemukan Tuhan kembali. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tidak berhenti berusaha, agar sedapat mungkin belajar menjadi sempurna seperti Bapa. Amin!

(c) 2017 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 33:4-5.18-20.22; R: 22)

Ref: Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepadaMu.
  1. Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakanNya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setiaNya.
  2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara jiwa mereka dari maut.
  3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah Penolong dan perisai kita, kasih setiaMu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepadaMu.
 

Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup (2 Tim 1:8b-10)

Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Kristus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juru Selamat kita Yesus Kristus. Dengan InjilNya, Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
 

WajahNya bercahaya seperti matahari (Mat 17:1-9)

Sekali peristiwa, Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke gunung yang tinggi. Di situ, mereka sendirian saja. Lalu, Yesus berubah rupa di depan mata mereka: WajahNya bercahaya seperti matahari, dan pakaianNya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka, tampak kepada mereka, Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau biarlah kudirikan di tempat ini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengarlah suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu, Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun, sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge