| |
|
| Bebaskanlah dirimu dari dendam, maka hatimu diliputi damai dan sukacita. |
YESUS mengutip ketentuan hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi, yang tertera secara jelas di Perjanjian Lama (bdk. Kel 21:23-25; Im 24:19-20; Ul 19:21) sebagai titik tolak. Secara sederhana dapatlah dikatakan, bahwa ketentuan itu sangat adil dan membuat orang tidak berani melakukan hal-hal yang melanggar hukum karena sangsinya sangat berat. Namun keadilan versi ini selalu membawa luka baru, sehingga masalah tetap berlanjut.
Yesus menawarkan suatu pendekatan lain. “Jika ada yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu”, kataNya. Ucapan ini menyentuh semua pihak yang terlibat. Bagi yang menjadi korban ketidakadilan, sikap tenang itu menutup pintu dendam. Ketika dendam dapat diredam, kemungkinan damai dan kerukunan lebih terbuka. Sementara itu, bagi pelaku, setidak-tidaknya sikap tidak membalas dari korban bisa menggugah nuraninya. Hanya orang yang sama sekali tidak bernurani yang terus menghantam korban yang tidak membalas. Maka, menghapus balas dendam berarti memotong akar konflik yang tidak berujung.
St. Fransiskus Asisi, tokoh pembaharu gereja yang terkenal me-wariskan kepada kita doa berikut ini:
TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah, ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur; mengerti daripada dimengerti; mengasihi daripada dikasihi; sebab dengan memberi kita menerima; dengan mengampuni kita diampuni, dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal. Amin.
Dia tidak hanya mewariskan doa ini tetapi sudah berusaha mewujudkannya. Kata-kata Yesus di atas bukanlah suatu ajaran yang tak bisa diwujudkan. Di mana ada niat, di sana ada jalan. (ap)
- Apakah anda mendendam atau pernah mendendam kepada seseorang dan ingin membalasnya?
- Sejauh mana anda melihat dendam itu mempengaruhi hidup anda?
(c) bbss 2014 aurelius pati soge |
|
Nabot dilempari batu sampai mati
(1 Raj
21:1-16)
Nabot, seorang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. Berkatalah Ahab kepada Nabot, “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur sebab letaknya dekat rumahku. Sebagai gantinya akan kuberikan kebun anggur yang lebih baik, atau jika engkau lebih suka, akan kubayar harga kebun itu dengan uang.” Jawab Nabot kepada Ahab, “Semoga Tuhan mencegah aku memberikan milik pusaka leluhurku kepadamu.”
Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati. Ia gusar karena perkataan Nabot, orang Yizreel itu.”Aku takkan memberikan milik pusaka leluhurku kepadamu”. Maka berbaringlah raja di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya; ia tidak mau makan. Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya, “Apa sebabnya hatimu kesal,sehingga engkau tidak makan?” Jawab Ahab kepadanya, “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu, ‘Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kepadamu kebun anggur sebagai gantinya. Tetapi sahutnya, “Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.” Kata Izebel, isterinya, kepadanya, “Bukankah engkau yang menjadi raja atas Israel? Bangunlah,makanlah, dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.”
Izebel lalu menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat itu ditulisnya demikian, “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan, “Engkau telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.” Para tua-tua dan pemuka yang tinggal sekota dengan Nabot melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka. Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat. Katanya, “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa Nabot ke luar kota. Lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Kemudian mereka menyuruh orang melaporkan kepada Izebel, “Nabot sudah dilempari batu sampai mati.”
Segera sesudah mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari batu sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab, “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi, ia sudah mati.” Ketika Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia segera bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu. Untuk mengambil kebun anggur itu menjadi miliknya.
|
|
Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu (Mat 5:38-42)
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian mendengar, bahwa dahulu disabdakan, ‘Mata ganti mata; gigi ganti gigi.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Bila orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Bila engkau dipaksa mengantarkan seseorang berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang mau meminjam sesuatu dari padamu.”
|