Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Agustus 2015
  MASA BIASA PEKAN 22
   

Tetap Setia Mengungkap Kebenaran

SEJUMLAH tindakan Yesus yang tidak biasa menyulut kontroversi dan membuat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat merasa tidak nyaman. Tak dapat dipungkiri, kelompok ini menjadi sasaran kecaman Yesus karena pola hidup mereka yang kelihatannya begitu selaras dengan Taurat, namun di balik semua ini, Yesus menemukan kemunafikan yang besar, karena apa yang mereka ajarkan tidak mereka jalankan. Ibaratnya, mereka membuat beban yang berat tetapi meletakkannya di atas bahu orang lain. Itu jelas bukan sebuah sikap yang baik.

KUNJUNGAN kepada Yesus sesungguhnya bisa menjadi ajang pemurnian relasi antara kedua pihak. Tetapi ketika ada bersama Yesus, mereka tetap menampilkan watak aslinya, yakni memandang rendah yang lain. Walaupun tindakan Yesus banyak membuat gerah mereka, toh mereka tahu, bahwa Yesus itu orang yang lurus. Orang selurus Yesus, ketika tidak mengikuti tata aturan dan tradisi, pasti mempunyai alasan. Alasan ini yang tidak di- dalami oleh mereka. Mereka hanya bersikap menggurui dan merendahkan Yesus dan para muridNya, sehingga menyulut kecaman Yesus. Mereka menekankan bentuk lahiriah dan melupakan hakekat, sementara Yesus menekankan hakekat dan menomorduakan unsur lahiriah. Benturan pun tak terelakkan, namun bagi para murid, sikap Yesus justru membahasakan pentingnya tetap setia mengungkapkan kebenaran.

SEPERI orang Israel di padang gurun, kita juga telah berlaku tidak setia kepada Tuhan. Seperti orang Farisi dan ahli Taurat, kita juga banyak kali berlaku munafik. Namun anjuran Yesus menjadi kesempatan bagi kita untuk bertobat dan membaharui relasi dengan Tuhan. Yang mencemarkan kita adalah diri kita sendiri, bukan makanan minuman atau tata adat yang dibuat manusia. Maka hendaklah kita menekankan hakekat perutusan kita, yakni menjadi pelaku Firman. Kiranya dengan itu Tuhan memandang kerendahan hati kita dan menerima kita ke dalam KerajaanNya. (ap)

  1. Pernahkah anda bersikap munafik? Apa alasannya?
  2. Bagaimana Tuhan menegur anda? Apa tanggapan anda?

(c) 2015 aurelius pati soge


REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
26 27 28 29 30 31
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5
  Minggu, 30 Agustus 2015
     
 

APA YANG MASUK KE DALAM SESEORANG TIDAK MENAJISKAN, TETAPI APA YANG KELUAR DARI SESEORANG ITU YANG MENAJISKAN

   
   
   
 
Ul 4:1-2.6-8 | Mzm 25:2-3a.3cd.4ab.5 | Yak 1:17-18.21b-22.27 |
Mrk 7:1-8.14-15.21-23

 

Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan (Ul 4:1-2.6-8)

Di padang gurun seberang Sungai Yordan, Musa berkata kepada bangsanya, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya. Dengan demikian kamu berpegang pada perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaan dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” Begitu mendengar segala ketetapan ini mereka akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti Tuhan, Allah kita, setiap kali kita berseru kepadaNya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?”

Mazmur Tanggapan (Mzm 25:2-3a.3cd.4ab.5)

Refrein: Tuhan, siapa diam di kemahMu, siapa diam di gunungMu yang suci.

  1. Yaitu orang yang berlaku tidak bercela; yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya; yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
  2. Yang tidak berbuat jahat terhadap teman dan tidak menimpakan cela kepada tetangga-nya; yang memandang hina orang yang tercela tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang bertakwa.
  3. Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba, dan tidak menerima suap melawan yang tidak bersalah. Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya.
 

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman (Yak 1:17-18.21b-22.27)

Saudara-saudaraku yang terkasih, setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang. PadaNya tidak ada perubahan atau bayangan pertukaran. Atas kehendakNya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya pada tingkat yang tertentu kita menjadi anak sulung di antara semua ciptaanNya. Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam dalam hatimu yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar. Sebab jika tidak demikian, kamu menipu diri sendiri. Ibadah sejati dan tak bercela di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia.

 

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia (Mrk 7:1-8.14-15.21-23)

Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan terlebih dahulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid-muridMu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?” Jawab Yesus kepada mereka, “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah Aku dan camkanlah ini! Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, pencurian, pembunuhan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”




HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)
 


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge