Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
November 2017
  MASA BIASA PEKAN 33
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
      1 2 3
26 27 28 29 30    
  Kamis, 23 November 2017
   
 

KAMU ADALAH ANAK-ANAK TERANG YANG BERJAGA MENANTIKAN TUHAN YANG DATANG LAKSANA PENCURI DI WAKTU MALAM

 
 
 
1 Mak 2:15-29 | Mzm 50:1-2.5-6.14-15 | Luk 19:41-44

Kami akan mentaati hukum nenek moyang kami (1 Mak 2:15-29)

Pada masa pemerintahan Raja Antiokhus Epifanes, orang-orang Yahudi dipaksa meninggalkan ketetapan hukum Taurat. Sekali peristiwa para pegawai raja datang ke kota Modein untuk menuntut orang-orang Yahudi mempersembahkan kurban kepada berhala. Banyak orang Israel d atang kepada mereka. Matatias dan anak-anak berkumpul juga. Pegawai raja itu angkat bicara dan berkata kepada Matatias, “Saudara adalah seorang pemimpin, orang terhormat dan pembesar di kota ini, dan lagi didukung oleh anak-anak serta kaum kerabat. Baiklah Saudara sekarang juga maju ke depan sebagai orang pertama untuk memenuhi ketetapan raja. Hal ini telah dilakukan semua bangsa, bahkan juga orang-orang Yehuda dan mereka yang masih tinggal di Yerusalem. Kalau demikian niscaya Saudara serta anak-anak Saudara termasuk dalam kalangan sahabat-sahabat raja, dan akan dihormati dengan perak, emas dan banyak hadiah!”
Tetapi Matatias menjawab dengan suara lantang, “Kalaupun segala bangsa di lingkugnan wilayah raja mematuhi perintah Seri Baginda dan masing-masing murtad dari agama nenek moyangnya serta menyesuaikan diri dengan perintah Seri Baginda, namun aku serta anak-anak dan kaum kerabatku hendak tetap hidup menurut perjanjian nenek moyang kami. Semoga Tuhan mencegah kami meninggalkan hukum Taurat serta peraturan-peraturan Tuhan. Titah raja itu tidak dapat kami taati. Kami tidak dapat menyimpang sedikit pun dari agama kami.”
Belum lagi Matatias selesai berbicara, seorang Yahudi tampil ke depan umum untuk mempersembahkan kurban di atas mezbah berhala di kota Modein menurut penetapan raja. Melihat itu Matatias naik darah dan gentarlah hatinya karena geram yang tepat. Disergapnya orang Yahudi itu dan digoroknya di dekat mezbah. Petugas raja yang memaksakan kurban itupun dibunuhnya pada saat itu juga. Kemudian mezbah itu dirobohkannya. Tindakannya untuk membela hukum Tuhan itu serupa dengan yang dahulu pernah dilakukan oleh Pinehas terhadap Zimri bin Salmon. Lalu berteriaklah Matatias dengan suara lantang di kota Modein, “Siapa saja yang rindu memegang hukum Taurat dan berpaut pada perjanjian itu hendaknya mengikuti aku!” Kemudian Matatias serta anak-anaknya melarikan diri ke pegunungan. Segala harta miliknya di kota ditinggalkannya.

TINDAKAN Matatias yang melawan raja dengan cara membunuh pegawai raja dan seorang Yahudi yang maju untuk membawa persembahan kepada berhala-berhala, pasti dinilai brutal tanpa perikemanusiaan menurut pandangan masyarakat modern saat ini. Mengesampingkan sejenak standar penilaian modern, sikap dan tindakan Matatias dan keluarganya merupakan wujud perlawanan terhadap kesewenang-wenangan dan membela kemurnian ajaran iman yang diwarisi dari leluhur. Menyembah berhala itu sikap mainstream Yahudi oportunis, yang mengorbankan kebenaran iman demi keuntungan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Namun sesungguhnya kesalahan mendasar ialah mereka telah mengingkari peranan sentral Tuhan dalam hidup mereka sebagai bangsa terpilih.

KESALAHAN orang-orang Israel terus menerus berulang dari masa ke masa, dari abad ke abad. Di masa Yesus pun sikap serupa tidak berubah. Ketidaksetiaan ini begitu parah, sehingga Yesus meramalkan keruntuhan Yerusalem. Ramalan Yesus bukan ungkapan kebencian, melainkan visi seorang utusan Tuhan yang mengalami penolakan dan penganiayaan. Sumber penolakan dan penganiayaan itu adalah ketegaran hati yang tidak mau melihat kebenaran firman Tuhan di dalam hidup dan pelayanan Yesus. Ketegaran hati menumbuhkan egoisme yang tinggi, yang pada akhirnya membuat mereka bertindak tanpa perhitungan. Ramalan Yesus itu pada akhirnya terwujud. Sejarah menyaksikan, bahwa pada tahun 70 M, Yerusalem runtuh oleh bala tentara Romawi. Sejak itu, eksistensi Israel sebagai sebuah bangsa berdaulat tak lagi ada. Titik tolaknya sangat sederhana, yakni enggan bersikap rendah hati dan tunduk setia pada Tuhan.

MENANGISI Yerusalem bukanlah tanda putus asa Yesus, tetapi lebih berupa seruan akan adanya kesempatan terakhir yang tidak boleh diabaikan, yakni bertobat. Orang-orang Israel membuktikan diri tidak setia dari masa lalu hingga ke jaman Yesus. Ada banyak tokoh istimewa, tetapi tidak sedikit tokoh yang berseberangan dengan kehendak Tuhan. Bagi mereka, mengabaikan kehendak Tuhan itu sudah seakan-akan menjadi filosofofi hidup. Di sini kita belajar nilai pengorbanan diri Tuhan. Tuhan memberi segalanya, termasuk diri-Nya sendiri, tetap manusia mengingkari. Sebagai murid Tuhan kita perlu berjuang melawan kecenderungan ini, agar rencana keselamatan Tuhan terwujud. (ap)

Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah hati kami, agar kami tetap setia pada-Mu, walaupun dunia membenci umat kesayangan-Mu. Amin!

(c) 2017 twm


Mazmur Tanggapan (Mzm 50:1-2.5-6.14-15; R: 23b)

Ref: Siapa yang jujur jalannya akan menyaksikan keselamatan yang dari Allah.

  1. Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya. Dari Sion, puncak keindahan, Allah tampil bersinar.
  2. Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Daku, perjanjian yang dikukuhkan dengan kurban sembelihan! Maka langit memberitakan keadilanNya, Allah sendirilah Hakim!
  3. Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah, dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi. Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, maka Aku akan meluputkan engkau dan engkau akan memuliakan Daku.

Andaikan engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu (Luk 19:41-44)

Pada waktu itu, ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, katanya, “Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu. Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melewati engkau.”

 

HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge