Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
 
 OPINI
"Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya "
(Arnoldus Janssen)

"Tugas kita yang paling utama ialah mewartakan Sabda. ... Pewartaan kita haruslah demikian rupa, sehingga ia memancarkan keagungan Kabar Gembira, dan dengan demikian orang dapat mengakui amanat Allah dalam kata-kata kita" (Konstitusi SVD 107)


EKO PASTORAL:
Sebuah pilar pemberdayaan KBG di Keuskupan Pangkalpinang

   
 
oleh Aurelius Pati Soge*)
halaman 1 dari 3
 

SINODE Keuskupan Pangkalpinang 2010 yang lalu mengangkat masalah Lingkungan Hidup sebagai satu point penting dalam realitas eksternal pastoral yang kita hadapi. Pernyataan Sinode artikel 106-108 (Menuju Gereja Partisipatip, 2012: 57-58) mengangkat tema kerusakan lingkungan hidup sebagai buah dari pembangunan ekonomi yang mengabaikan aspek pemeliharaan lingkungan, terlihat jelas dalam bentuk kerusakan hutan, pencemaran air tanah, laut dan udara, menyusutnya persediaan air bersih dan sebagainya. Fakta lain ialah tidak adanya usaha serius untuk melakukan restorasi lingkungan, pendidikan masyrakat dan penegakan hukum yang sangat diperlukan berkaitan dengan masalah ini.

Menanggapi realitas ini, Keuskupan Pangkalpinang mengangkat tema ekologi menjadi satu persoalan yang perlu terus menerus disuarakan dalam pelayanan pastoral untuk mewujudkan spiritualitas keutuhan ciptaan mengingat alam semesta secara keseluruhan adalah perwujudan hakekat Tuhan. Untuk itu Keuskupan perlu mempromosikan eko-pastoral dan mengusakan kerja sama dengan pihak-pihak yang berkecimpung dalam bidang penyelamatan lingkungan hidup, serta membangun jejaring pastoral untuk memantau kerusakan ekologi mulai dari tingkat keuskupan hingga ke paroki-paroki. Untuk maksud inilah tema ini diangkat sebagai satu studi animatip bagi para imam petugas pastoral di Dekenat Utara.


1. Keprihatinan ekologis

Berbicara tentang kerusakan lingkungan, perhatian kita langsung mengarah ke eksplorasi sumber daya alam secara berlebihan dengan dalih demi pembangunan ekonomi bangsa. Konstitusi negara Indonesia (UUD 45 pasal 33) memberikan kewenangan kepada negara untuk menguasai sumber-sumber daya alam dan memanfaatkannya demi kesejahteraan masyarakat. Dalam praktek, negara sering mengalihkan hak pengelolaan ini ke tangan para pemegang modal sehingga terbentuklan badan-badan usaha swasta yang mengupayakan semua ini, tidak semata-mata demi kepentingan banyak orang tetapi terutama untuk menghasilkan keuntungan.Keuntungan yang diperoleh dalam eksplorasi alam tidak hanya menarik perhatian para usahawan lokal tetapi juga usahawan internasional. Didukung oleh agenda pasar bebas dan dominasi lembaga-lembaga moneter internasional, usaha-usaha lokal sering kali terpaksa membuka pintu dan merger dengan banyak korporasi interansional. Terjadilah perubahan kepemilikan dan pengalihan agenda usaha dari melayani kepentingan umum menjadi melayani kepentingan para pemilik modal.

Dominasi agenda pemilik modal ini sering berbenturan dengan kepentingan masyarakat. Demi pengembangan usaha misalnya, perusahaan-perusahaan sering menggusur masyarakat, mengabaikan hak-hak azasi manusia dan hak-hak ulayat masyarakat indigenous, merusak kohesi sosial budaya agama dan sebagainya. Eksplorasi sumber daya alam dengan cara ini seringkali disertai oleh pelecehan terhadap hak-hak azasi manusia. Karena itu dapatlah dikatakan, bahwa “jeritan alam yang terluka keutuhannya berjalan seiring dengan jeritan kaum terpinggirkan yang terabaikan hak-haknya.”


Suasana Sinode 2010 Keuskupan Pangkalpinang

 
2. Tema aktual pastoral kita
 
 

EKSPLORASI alam yang secara singkat dideskripsikan di atas secara langsung maupun tak langsung berpengaruh terhadap penghayatan iman umat Kristiani. Tuntutan hidup modern yang cenderung konsumtif dan instan membuat banyak orang Kristiani terjebak dalam dosa perusakan lingkungan tersebut. Dengan kata lain, umat Kristiani, entah secara sadar atau tidak, ikut terperangkap dalam pola hidup yang melayani agenda para pemilik modal transnasional yang jelas-jelas mengabaikan integritas alam dan manusia. Almahrum Paus Yohanes Paulus II, dalam pesannya untuk World Day for Peace, pada tanggal 1 Januari 1990, antara lain mengatakan, bahwa krisis ekologis adalah sebuah problema moral dan menjadi tanggung jawab setiap orang. Lebih lanjut ia menekankan, bahwa memelihara lingkungan hidup bukanlah sebuah pilihan sukarela melainkan sebuah kewajiban hakiki setiap orang Kristiani, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota komunitas umat beriman dan warga masyarakat, karena mengabaikan pemeliharaan lingkungan hidup adalah bentuk konkrit mengabaikan Sang Pencipta dan rencana keselamatanNya yang pada akhirnya bermuara pada alienasi pribadi manusia.

 
 
 
 
 
 
 

Di kalangan umat Kristiani sendiri pun sesungguhnya ada perbedaan pandangan tentang pengelolaan lingkungan hidup. Ada pihak yang berusaha membangun kecerdasan iman dan moral yang memandang kekayaan alam ciptaan sebagai karunia Ilahi yang patut dihargai dan dipelihara. Yang lain secara manipulatip memanfaatkan pesan kitab suci (misalnya Kej 1:28) untuk menancapkan kekuasaan dan haknya untuk menggunakan ciptaan Tuhan demi memuaskan keinginannya. Menyadari peranan historis tradisi dan teologi Kristiani yang turut membentuk pola pikir Barat yang akhirnya melahirkan kapitalisme dengan segala dampak kerusakan ekologisnya, almahrum Paus Yohanes Paulus II menyerukan “pertobatan ekologis” (ecological conversion), menggali pesan-pesan biblis dan refleksi-refleksi teologi kontemporer untuk mengangkat isu-isu keadilan ekologis. Maret 2008, perusakan lingkungan hidup malah dikategorikan sebagai dosa berat (pecatum mortale). Melintas keluar dari Gereja, kerja sama sosial, ekumenis dan antar agama juga dianjurkan untuk menangani persoalan laten yang menyentuh semua lapisan masyarakat ini. Pendek kata, pengembangan teologi penciptaan sangat penting untuk bisa membangun kembali relasi yang benar antara manusia dan Tuhan serta antara manusia dan manusia yang ditunjang oleh implementasi praktis dalam kerja sama dengan semua pihak.

Situasi keuskupan kita yang berkembang menjadi sentra ekonomi – apalagi Batam menjadi bagian dari zona perdagangan bebas internasional – menempatkan kita dalam konteks pastoral ekologis yang unik. Kita tak hanya berhadapan dengan masalah -masalah kerusakan lingkungan sebagai buah dari pembangunan nasional tetapi juga agenda internasional lewat kehadiran korporasi-korporasi transnasional. Dalam konteks inilah kita coba memetakan kekuatan kita untuk mengupayakan sebuah animasi eko-pastoral yang memadai, pertama-tama internal umat kita, yang diperluas ke dalam dialog ekumene, inter-religius dan sosial.............. SELANJUTNYA
 
 
*) Dipresentasi pada hari studi para imam se Kevikepan Kepulauan Riau, 14 Agustus 2012.
PAGE 1, 2, 3
 
 
 
 

LIHAT ARTIKEL LAIN

 


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge