Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642
SEARCH:

                 
  SVD Batam SOVERDIA (Awam SVD) Pelayanan Kitab Suci Pelayananan Internasional Liturgi dan Devosi Tirta Wacana  
         
Firman Tuhan untukku hari ini...
 
Betapa dalamnya Sabda Alkitabiah.
Semoga kita memperlakukannya dengan penghargaan yang tinggi (St. Arnoldus Janssen
)
 
  Yesus naik ke dalam sebuah perahu, yaitu perahu Simon, menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu IA duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai, Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (Luk 5:3-5)  
   
   
 
 
Maret 2018
  Masa Prapaskah Pekan 4
 
REFLEKSI BULAN INI
Mg
Sn
Sl
Rb
Km
Jm
Sb
        1 2
25 26 27 28 29 30 31

Minggu, 11 Maret 2018
 
  St. Eulogius dari Leokrita, martir  
 
UJUD GEREJA INDONESIA:
"Semoga Aksi Puasa Pembangunan tak hanya dijalankan sebagai aksi formal dan administratif, tetapi sebagai perwujudan aksi pertobatan yang konkret dalam berbagi dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan membutuhkan."
 
 
 
2 Taw 36:14-16.19-23 | Mzm 137:1-6 | Ef 2:4-10 | Yoh 3:14-21

Murka Allah dinyatakan lewat pembuangan, kerahiman-Nya dinyatakan lewat pembebasan (2 Taw 36:14-16.19-23)

Ketika Israel diperintah oleh Raja Zedekia, semua pemimpin di antara para imam dan rakyat berkali-kali berubah setia dengan mengikuti segala kekejian bangsa-bangsa lain. Rumah yang dikuduskan Tuhan di Yerusalem mereka najiskan. Namun Tuhan, Allah nenek moyang mereka, berulang-ulang mengirim pesan melalui utusan-utusan-Nya, karena Tuhan sayang kepada umat-Nya dan kepada tempat kediaman-Nya. Tetapi mereka mengolok-olok para utusan Allah itu, menghina segala firman Allah, dan mengejek nabi-nabi-Nya. Oleh sebab itu murka Tuhan bangkit terhadap umat-Nya, sehingga tidak mungkin lagi ada pemulihan. Maka Tuhan menggerakkan raja orang-orang Kasdim. Mereka membakar rumah Allah, merobohkan tembok Yerusalem dan membakar segala puri dalam kota itu, sehingga musnahlah segala perabotan yang indah-indah. Mereka yang masih tinggal dan terluput dari pedang diangkutnya ke Babel, mereka dijadikan budak raja dan budak anak-anaknya sampai kerajaan Persia berkuasa. Dengan demikian genaplah firman Tuhan yang diucapkan Yeremia, sampai tanah ini pulih, dari akibat dilalaikannya tahun-tahun Sabat, karena tanah itu menjadi tandus selama tahun Sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun.
Pada tahun pertama pemerintahan Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu, untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia. Maka dimaklumkanlah di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan maklumat ini: “Beginilah perintah Koresh, raja Persia. Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, kiranya Tuhan menyertainya dan biarlah ia berangkat pulang.”

 
LATIHAN bela diri sering disebut juga sebagai seni, yang tidak hanya mengajarkan ketrampilan untuk menyerang lawan atau mempertahankan diri, tetapi juga filsafat hidup, etika, hubungan sosial, dan sebagainya. Jarang para murid seni bela diri mendapat perlakukan halus. Mereka hanya dicerca, dimaki-maki, dituntut untuk berdisiplin dan taat mutlak pada guru. Tetapi murid-murid itu tabah, setia dan berdedikasi tinggi. Mereka tahu, perlakuan keras itu semata-mata untuk kebaikan mereka sendiri. Dengan cara itu mereka terlatih menjadi pribadi yang ulet menghadapi aneka kesulitan hidup. Mereka yakin, bahwa muara dari semua penderitaan itu adalah kebaikan, bukan saja bagi mereka sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Seorang murid yang baik akan menerima hukuman dengan tabah, tak ada keinginan membalas dendam.

PERUTUSAN Yesus Kristus adalah puncak rencana keselamatan Bapa, sebagaimana terungkap dalam dialog antara Yesus dengan Nikodemus. "Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya" (Yoh 3:17). Jalan menuju eksekusi terakhir rencana keselamatan itu berlangsung selama berabad-abad. Dalam kurun waktu itu, umat Allah ditempa, dipersiapkan, dimurnikan dan disadarkan akan akibat buruk yang dibawa oleh dosa-dosa manusia. Pembuangan orang Israel ke Babilonia tentu dilihat sebagai hukuman Tuhan, tetapi pembebasan mereka oleh Koresh, raja Persia, dilihat juga sebagai penyelenggaraan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya tenggelam dalam kesedihan hukuman atas dosa, tetapi juga merancang pembebasandan memulihkan sukacita dan harga diri mereka. Dari perspektip rohaniah, peristiwa-peristiwa ini memberi gambaran, bahwa manusia perlu "mati" karena dosa, tetapi harus tetap yakin akan adanya "kebangkitan" karena kasih karunia Tuhan. Pemahaman yang baik tentang rencana keselamatan Tuhan dan proses yang harus dilewati memberikan ketenangan batin kepada umat beriman (bdk. Mzm 137:6), bahwa di ujung jalan salib ada kebangkitan yang memahkotai seluruh perjuangan.

MASA Prapaskah menjadi periode kita merenungkan hakekat jalan keselamatan yang disiapkan Tuhan bagi kita, dan tanggapan yang harus kita berikan. Pada satu sisi kita menyadari pentingnya tobat dan pemurnian diri sebagai bagian dari penghayatan iman, namun akan lebih sempurna ketika kita memotivasi diri untuk menyadari peranan belas kasih Ilahi di dalam rekonsiliasi dan pemulihan martabat manusia. Sesungguhnya peranan dan korban manusia sangat kecil jika dibandingkan dengan peranan dan korban diri Tuhan. Inilah yang perlu kita wartakan untuk mendorong tobat, rekonsiliasi dan pemurnian diri, sebagai bagian dari penghayatan iman sejati di hadapan Tuhan. (ap)

Sentuhlah batin kami, ya Tuhan, dan jamahlah hati kami. Ingatkanlah kami untuk berlaku rendah hati dan menghargai pengorbanan-Mu. Amin.

© 2018 twm

Mazmur Tanggapan (Mzm 137:1-2.3.4.5-6; R: 6a)

Ref: Hanya pada Tuhanlah, hatiku tenang.

  1. Di tepi sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita gantungkan kecapi kita.
  2. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion.”
  3. Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!
  4. Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak menjadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

Kamu telah mati karena kesalahan, tetapi diselamatkan berkat kasih karunia (Ef 2:4-10)

Saudara-saudara, terdorong oleh kasih karunia-Nya yang besar, yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, Allah yang kaya dengan rahmat telah menghidupkan kita bersama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati karena kesalahan kita. Jadi kamu diselamatkan berkat kasih karunia. Di dalam Kristus Yesus itu, Allah telah membangkitkan kita juga dan memberi tempat di surga bersama dengan Dia. Dengan itu Allah bermaksud di masa yang akan datang menyatakan kepada kita kasih karunia-Nya yang berlimpah, sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab berkat kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman. Keselamatan itu bukanlah hasil usahamu melainkan pemberian Allah. Jadi keselamatan itu bukanlah hasil pekerjaanmu. Maka jangan sampai ada orang yang memegahkan diri. Sebab sesungguhnya kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, yang sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

 

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia untuk menyelamatkannya (Yoh 3:14-21)

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada Nikodemus yang datang kepada-Nya pada waktu malam, “Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa percaya kepadanya, ia tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat, sebab barang-siapa berbuat jahat ia membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak, tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."


HARI SEBELUMNYA  |  INDEX  |  HARI BERIKUTNYA
(Teks bacaan diambil dari Buku Bacaan Misale Romawi Indonesia, terbitan Obor, Jakarta)      


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge