![]() |
|
Home | News | Opinion | Contact Us |
||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642 | SEARCH:
|
|||||||
| SVD Batam | SOVERDIA (Awam SVD) | Pelayanan Kitab Suci | Pelayananan Internasional | Liturgi dan Devosi | Tirta Wacana |
|---|
![]() |
OPINI | "Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya " (Arnoldus Janssen) |
![]() |
|---|---|---|---|
|
| |
MISI SVD BATAM: |
|||
|---|---|---|---|
oleh Aurelius Pati Soge |
halaman 3 dari 5 |
||
2. KOMUNITAS SVD BATAM: sebuah test-case passing over. Peralihan sebuah karya misi dan pastoral dari para misionaris SVD ke para imam keuskupan atau tarekat religius lain sesungguhnya bukan sebuah hal baru di lingkungan SVD Indonesia. Di lingkungan Provinsi Jawa, hal itu bukan ceritera baru. Bali Lombok, misalnya, yang di era ius commisionis merupakan kawasan misi SVD, kini hanya menyisakan beberapa paroki yang masih dilayani oleh para misionaris SVD berdasarkan kesepakatan dengan uskup Denpasar. Pengalihan pelayanan Paroki Sakramen Mahakudus, Pagesangan, Surabaya, dari misionaris SVD ke imam-imam projo Keuskupan Surabaya, menambah panjang daftar tersebut. Namun, kasus komunitas misi SVD Batam menampilkan sebuah fenomena menarik. Mari kita sejenak meneropong fakta-fakta historis. |
|||
![]() Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD (Uskup Pangkalpinang) |
2.1. Beberapa data sejarah. Tahun 1987, seorang misionaris SVD ditunjuk menjadi uskup Pangkalpinang, yakni Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD. Atas undangannya, pada tahun 1990, misionaris SVD mengambil alih pelayanan di Pulau Batam. Dua misionaris perintis mengawali karya itu, yakni P. Allan Geogehan Nasraya dan P. Stanislaus Kalawair. Selanjutnya dalam kurun waktu 23 tahun, sederet misionaris telah menyumbangkan pelayanannya di pulau ini: P. Albertus Novena, P. Yoseph Due, P. Yosef Purwo Tjahjanto, P. Bartolomeus Wayan Joko Sunaryo, P. Hilario Salinas, P. Petrus Sarbini, P. Venantius Supriyono, P. Laurentius Ketut Supriyanto, P. Antonius Kedang, P. Theodorus Tidja Ballela, Br. Redemptus Dagang Kedang, P. Benediktus Ratuwalu, P. Aurelius Pati Soge, P. Antonius Sarto Mitakda dan P. Sebastianus Ndona. Dalam kurun waktu itu pula, paroki Lubuk Baja dimekarkan menjadi empat paroki. Tiga paroki hasil pemekaran itu adalah Paroki St. Damian Bengkong yang dilayani oleh para misionaris Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC), Paroki Kerahiman Ilahi Tiban dan Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi Tembesi (dilayani oleh para imam keuskupan), sedangkan paroki induk, St. Petrus, Lubuk Baja, masih dilayani oleh misionaris SVD, dengan kalusul kesepakatan kerja, bahwa Uskup bisa menempatkan para imamnya dalam tim pastoral di paroki tersebut. Atas dorongan Uskup, di tahun 2004 didirikan Bible Centre di Sukajadi, di dalam wilayah paroki St. Petrus, sebagai pusat pelayanan Kitab Suci, sepenuhnya dimiliki oleh SVD. Untuk menunjang pelayanan di sentrum tersebut, didirikanlah rumah misi SVD sebagai komunitas bagi para misionaris yang tidak terlibat langsung dalam pelayanan paroki. 7 Oktober 2011, Provinsial SVD Jawa, P. Felix Kadek Sunartha, SVD, memberkati dan membuka secara resmi komunitas tersebut, yang beralamat di Jl. Kelapa Hijau 43, Bukit Indah Sukajadi, Batam. Komunitas dipersembahkan di bawah perlindungan Maria, Ratu Rosari. Para anggotanya terdiri dari P. Antonius Kedang, P. Theodorus Tidja Ballela, Br. Redemptus Dagang Kedang dan P. Aurelius Pati Soge sebagai praeses komunitas dan penanggung jawab pelayanan di Bible Centre. |
|||
Keterlibatan misionaris SVD dalam pelayanan di paroki tersebut dikukuhkan dengan Conventio Scripta (kesepakatan kerja) per lima tahun. Termin lima tahun terakhir (2008-2013) berujung pada Minggu, 6 Januari 2013, di mana SVD secara resmi mengembalikan reksa pastoral paroki kepada Keuskupan Pangkalpinang. Serah terima berlangsung dalam satu perayaan Ekaristi, di mana SVD diwakili oleh pastor paroki terakhir, P. Antonius Sarto Mitakda, SVD dan Keuskupan Pangkalpinang diwakili oleh Vikaris Jendral Keuskupan, Rm. F.X. Hendrawinata, Pr. Dengan demikian berakhirlah kiprah misionaris SVD di bidang pastoral parokial di Keuskupan Pangkalpinang. Kehadiran SVD di Keuskupan ini masih terus berlanjut dalam Komunitas SVD Ratu Rosari, Sukajadi, dengan tanggung jawab pelayanan di Bible Centre, sebuah karya propria tarekat. 2.2. Krisis peranan misioner SVD. Jika peralihan itu terjadi karena berakhirnya kesepakatan kerja, kira-kira di mana letak krisis yang membuat komunitas mengalami disorientasi peranan misioner? Pertama, krisis itu berkenaan dengan keberadaan Bible Centre. Pada awalnya, Bible Centre dirancang dalam asosiasi dengan kehadiran misionaris SVD yang melayani dalam bidang pastoral konvensional di paroki. Sambil tetap terbuka pada semua pihak di keuskupan ini, wajah Bible Centre sendiri sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh komitmen pastoral parokial. Dengan kata lain, program pelayanan di Bible Centre, selain daripada menjabarkan langsung spiritualitas misioner tarekat, juga menjawabi kebutuhan pastoral konkrit paroki. Mengingat kesepakatan kerja tidak diperpanjang sementara belum ada kesepakatan baru antara tarekat dan keuskupan, komunitas SVD Batam harus mendefinisikan apa makna dan wujud konkrit peranan misioner di tempat ini. Redefinisi ini menjadi lebih terbatas karena hanya menyentuh aspek karya propria. Dengan demikian, ruang lingkup hidup dan pelayanan misioner komunitas SVD Batam hanya bisa menyentuh aspek-aspek pengejawantahan spiritualitas misioner, seperti pelayanan rohaniah individu atau kelompok, animasi misi, gerakan awam Soverdia dan karya-karya sosial karitatip yang tidak bersinggungan dengan hirarki dan sistem organisasi gereja lokal. Pertanyaan yang sering dihadapi, baik dari luar maupun dari dalam komunitas SVD, adalah, mengapa tidak meninggalkan Batam jika tidak lagi diberi peranan pelayanan umat paroki? Secara emosional, mungkin langkah tersebut bisa diambil, namun dalam semangat misi perintisan, tindakan meninggalkan Batam justru membawa banyak konsekuensi negatip. Istilah populernya, lebih banyak mudarat-nya. Jika spiritualitas misioner SVD didefinisikan sebagai Dialog Profetis, maka peluang-peluang karya non parokial justru perlu digali, dimulai dan dipelihara, karena dengan itu secara tidak langsung menjamin proses passing-over wajah misi SVD. Implementasi misi sebagai dialog profetis pun mendapat lebih banyak peluang. Berikut ini coba dipaparkan langkah-langkah yang diambil................. SELANJUTNYA |
||||
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge |
|||