![]() |
|
Home | News | Opinion | Contact Us |
||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Jl. Kelapa Hijau - Bukit Indah Sukajadi - Batam 29642 | SEARCH:
|
|||||||
| SVD Batam | SOVERDIA (Awam SVD) | Pelayanan Kitab Suci | Pelayananan Internasional | Liturgi dan Devosi | Tirta Wacana |
|---|
![]() |
OPINI | "Aku sepenuhnya menyerahkan diriku kepada kehendak Tuhan dan membiarkan Ia mewujudkan keinginanNya atas diriku. Jika Ia mengijinkan sesuatu yang lebih berat menimpa diriku, aku masih tetap siap sedia dan menerima semuanya dari tanganNya " (Arnoldus Janssen) |
![]() |
|---|---|---|---|
|
| |
MISI SVD BATAM: |
|||
|---|---|---|---|
oleh Aurelius Pati Soge |
halaman 2 dari 5 |
||
Pada sisi lain, komunitas misionaris SVD mengalami sebuah peralihan paradigma misi, teristimewa sejak Kapitel Jendral XV, 2000, di mana karya misi didefinisikan sebagai Dialog Profetis. Bevans & Schroeder (2004: 348) menyebut tiga elemen pokok, yakni misi sebagai (a) partisipasi dalam hidup dan misi Allah Tritunggal, (b) kesinambungan misi Yesus yang mewartakan, melayani dan bersaksi tentang keadilan Kerajaan Allah yang sudah namun sekaligus belum terwujud, dan (c) pewartaan tentang Kristus sebagai satu-satunya penyelamat manusia. Sintese ketiga elemen inilah yang disebut sebagai dialog profetis. Perumusan Bevans dan Schroeder ini merupakan resonansi langsung dari semangat Kapitel Jendral SVD ke-15, 2000, yang menggagas misi sebagai dialog profetis tersebut. Konsep dasarnya ialah, bahwa pelaku karya misi dan sasaran pelayanan ditempatkan sebagai partner dialog. Dan SVD menentukan empat partner yang mendapat perhatian utama, yakni (1) kaum miskin dan marjinal, (2) kamu berbudaya lain, (3) kaum beragama lain, dan (4) kaum pencari iman dan penganut ideologi-ideologi sekular. Proses dialog tersebut dijalankan dengan di bawah animasi empat karakter spiritual yang dimiliki, yang dikategorikan dalam empat matra khas, yakni (a) Kitab Suci, (b) Komunikasi, (c) Animasi Misi, dan (d) Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC). Ada dua hal pokok yang perlu digarisbawahi. Pertama, dengan menyebut misi sebagai dialog profetis, seluruh karya misi adalah sebuah proses dialog iman. Dialog mengandaikan kesetaraan antara pihak-pihak yang berdialog, misionaris pada satu sisi dan para partner pada sisi yang lain. Hasil yang diharapkan adalah sebuah iklim kebersamaan humanistik yang setara dan terbuka serta diwarnai oleh nilai-nilai eskatologis. Penanaman nilai-nilai iman terus berlangsung, walaupun bendera yang dipakai adalah bendera humanis. Namun situasi kondusif tersebut tak boleh menyurutkan kewajiban kedua, yakni menyerukan keadilan dan melawan ketidakadilan. Dalam banyak hal, tuntutan kenabian ini mewajibkan para misionaris melibatkan diri dalam karya-karya kemanusiaan, yang kadangkala kelihatannya tidak berkaitan langsung dengan karya-karya misioner pastoral tetapi lebih menyentuh bidang-bidang sosial seperti ekonomi, keadilan sosial, lingkungan hidup, dan sebagainya. Di sini terlihat wajah passing-over tersebut. Karya misi pada hakekatnya tetap Missio Dei ad gentes, namun format yang diambil selalu bisa disesuaikan dengan tuntutan situasi. Maka misi itu tidak lagi terbatas pada karya-karya pastoral konvensional tetapi bertransformasi bentuk ke dalam aneka bidang kehidupan. Pada titik ini, kita melihat ada dua krisis (jika mau dikatakan demikian) konseptual tentang karya misi SVD masa kini. Pertama, para misionaris harus beralih dari mentalitas ius commisionis, yang pernah memberi hak, peranan dan nama besar kepada para misionaris, menuju realitas misi berdasarkan ius mandatum, di mana para misionaris harus hidup dengan realitas, bahwa privilese misi dan pastoral ada di tangan ordinaris gereja-gereja lokal, sementara para misionaris hanya bisa berkarya jika memperoleh mandat dari ordinaris tersebut. Kasarnya, jika gereja lokal tidak merasa memerlukan misionaris, ordinarisnya berhak untuk tidak menerima mereka. Kedua, secara internal, para misionaris SVD perlu terus menerus melakukan proses on-going formation untuk mengadopsi konsep misi sebagai dialog profetis. Karya misi tidak hanya berpijak pada model pastoral konvensional, tetapi melangkah lebih jauh menuju model-model kreatif inkonvesional yang menjawabi langsung situasi social masyarakat. Kedua proses passing-over ini menuntut kerendahan hati yang luar biasa dari para misionaris, karena ada peralihan dari sebuah kemapanan menuju eksplorasi dunia baru yang menantang, belum pasti, tetapi menuntut kerja keras. Kesimpulannya, karya misi kita sesungguhnya adalah sebuah proses passing-over yang tak pernah berakhir. ................ SELANJUTNYA |
|||
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge |
|||