Home | News | Opinion | Contact Us |
![]() |
| Graha Wacana, SVD Family Centre, Ledug - Jawa Timur: 26 - 29 Mei 2015 |
![]() |
|
"Dengan memulai proses pembaharuan diri ini, kita sedang menggoncang kemapanan yang kita hidupi selama ini. Paus Fransiskus mengatakan, bahwa gereja perlu bergerak dari zona nyaman menuju kawasan pinggir (Evangelii Gaudium 20) untuk mewartakan kasih Kristus kepada dunia. Bergerak bersama seluruh Gereja, komunitas misi Provinsi SVD Jawa bertekad untuk mengambil bagian dalam peziarahan gereja sejagat tersebut." (Kapitel Provinsi XII, no. 33) |
![]() |
|
![]() |
|
| Pertemuan Kelompok: Mendalami Hidup dan Misi Bersama |
|
||||||
"PROSES YANG KITA BANGUN BERADA DI JALUR YANG BENAR!" Demikian kata P. Paulus Rahmat, di sela-sela pertemuan pendalaman kelompok kepemimpinan. Agaknya sistem yang dibangun telah memberikan suasana pendalaman kelompok yang terbuka, akrab, bebas dari rasa curiga satu sama lain, sehingga akhirnya setiap orang bisa mengungkapkan diri apa adanya. Dalam skala sederhana, dapatlah kita katakan, inilah sesungguhnya community life in making. KAPITEL hari kedua diawali dengan pendalaman kelompok. Semua peserta disebarkan di dalam lima kelompok pendalaman, masing-masing membahas satu tema, yakni spiritualitas, komunitas, kepemimpinan, keuangan dan formasi, dalam format refleksi tiga lensa: konversi, transformasi, revitalisasi. Tugas kelompok mencakupi tiga unsur penting, yakni (a) deskripsi ideal bidang tersebut, (b) wujud-wujud konversi, transformasi, revitalisasi, dan (c) rencana aksi konkrit. Di dalam deskripsi awal, setiap kelompok bidang merumuskan sebuah pernyataan yang memberi gambaran ideal nilai-nilai bidang tersebut sebagaimana yang diharapkan Serikat. Perumusan itu bisa berasal dari konstitusi, dokumen-dokumen Serikat, dokumen-dokumen resmi gereja, dan sebagainya. Deskripsi ideal yang dipertentangkan dengan realitas lapangan melahirkan rumusan wujud-wujud konversi, transformasi dan revitalisasi. Akhirnya, temuan-temuan itu dimuarakan pada rencana aksi konkrit yang menjawabi kebutuhan akan konversi, transformasi dan revitalisasi tersebut. Melalui proses animasi berkelanjutan, terutama di dalam formasi dasar dan formasi berlanjut, proses tersebut akan didalami, diwujudkan, dievaluasi dan diperbaiki, dengan tujuan melahirkan semangat baru, untuk mengembalikan karakter hidup dan misi para misionaris yang menunjukkan gejala-gejala memudar. Ketika roh dasar itu sudah dihidupkan kembali di dalam spiritualitas pribadi dan komunitas, pamor misi kita di lapangan diharapkan kembali ke jalur yang benar. |
|||||||
Perpaduan doa, sharing dan diskusi Mengamati secara keseluruhan dinamika di dalam kelompok, P. Norbert Betan, salah satu anggota panitia penyelenggara, menekankan pentingnya memadukan doa, sharing dan diskusi. Mengapa perlu doa? Karena kita menggali daya-daya batin untuk menunjang karya pelayanan demi pengembangan Kerajaan Allah. Kita menyadari, bahwa pelaku utama karya misi adalah Tuhan sendiri (Missio Dei), sementara karya pelayanan yang kita lakukan adalah partisipasi kita sebagai manusia. Mengingat Tuhan adalah pelaku utama, yang kita perlukan adalah daya iman untuk membaca apa kehendak Tuhan bagi kita. Doa refleksi adalah jalan menuju pemahaman tersebut. Unsur lain yang juga penting adalah sharing. Di dalam sharing, yang lebih ditekankan adalah relasi persaudaraan. Kecenderungan dalam pertemuan para misionaris adalah argumen rasional yang mengesampingkan aspek-aspek emosionalitas. Padahal hidup komunitas tidak selamanya berjalan dalam kerangka intelektual. Maka sharing yang tulus dan terbuka memungkinkan terbangunnya jembatan solidaritas di antara anggota. Setiap samasaudara, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, diterima dan diberi tempat. Dan akhirnya diskusi, di mana kita perlu mengasah kemampuan intelektual untuk memahami dengan baik konsep-konsep abstrak, sehingga dengan nalar yang sehat kita merancang langkah-langkah penerapan, dengan memperhatikan semua kemungkinan baik dan buruknya. Perpaduan tiga hal ini secara langsung memberi asupan pada tiga dimensi khas kita, baik sebagai manusia dan terutama sebagai misionaris, yakni doa untuk menunjang spiritualitas, sharing untuk memenuhi aspek emosionalitas dan diskusi menjadi konsumsi intelektualitas. Pribadi yang seimbang dalam spiritualitas, emosionalitas dan intelektualitas akan memberi pengaruh besar bagi hidup dan misi lintas budaya. (ap) |
|||||||
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge |
|||