Home | News | Opinion | Contact Us
head
Graha Wacana, SVD Family Centre, Ledug - Jawa Timur: 26 - 29 Mei 2015

 

"Dengan memulai proses pembaharuan diri ini, kita sedang menggoncang kemapanan yang kita hidupi selama ini. Paus Fransiskus mengatakan, bahwa gereja perlu bergerak dari zona nyaman menuju kawasan pinggir (Evangelii Gaudium 20) untuk mewartakan kasih Kristus kepada dunia. Bergerak bersama seluruh Gereja, komunitas misi Provinsi SVD Jawa bertekad untuk mengambil bagian dalam peziarahan gereja sejagat tersebut." (Kapitel Provinsi XII, no. 33)

 

 

 


Orientasi Kapitel:
Meletakkan Dasar dan Memetakan Tujuan Kapitel
P. Aurelius Pati Soge memberikan orientasi kapitel:
mengapa dan untuk apa kita di sini?
 

MENGAPA KITA ADA DI SINI? Apa tujuan kita? Pertanyaan awal ini dilontarkan untuk menggugah kesadaran semua kapitularis, yang diutus oleh komunitas masing-masing, baik sebagai utusan karena jabatan maupun sebagai utusan terpilih. Para peserta diharapkan untuk tidak sekedar hadir memenuhi kewajiban agenda rutin setiap tiga tahun ini, tetapi juga memahami legasi kapitel, proses persiapan, hingga tujuan yang ingin dicapai. Tugas ini jatuh ke tangan koordinator kapitel, P. Aurelius Pati Soge.

MENGAWALI seluruh rangkaian acara Kapitel Provinsi Jawa ke-12, 2015, P. Pati Soge, selaku koordinator yang ditunjuk oleh Superior Provinsi dan Dewan, mengajak peserta untuk mendalami seluruh rangkaian acara kapitel dan memahami tujuannya. Penjelasan menyeluruh bagian ini meliputi legasi Kapitel Provinsi yang merujuk ke gerakan Serikat sejagat dan tanggapan yang dibuat Provinsi Jawa, frame refleksi dan tujuan yang hendak dicapai.

 
 

Legasi Kapitel Provinsi XII

Kapitel yang terselenggara tahun 2015 ini merupakan buah logis dari gerakan pembaharuan seluruh Serikat, teristimewa yang dirumuskan di dalam tiga Kapitel Jendral SVD di abad ke-21, yakni KJ XV (2000), KJ XVI (2006) dan KJ XVII (2012). KJ 2000 merumuskan misi SVD masa kini sebagai Dialog Profetis, di mana semua pihak yang terlibat dilihat sebagai partner dialog yang setara. Dengan demikian karya evangelisasi berjalan dua arah, di mana misionaris tidak saja meng-evangelisasi para partner dialog tetapi juga sebaliknya di-evangelisasi oleh mereka. Ada empat rumpun partner dialog yang ditentukan, yakni (a) kaum miskin dan terpinggirkan, (b) kaum berbudaya lain, (c) kaum beragama lain, dan (d) kaum pencari iman dan penganut ideologi sekular. Untuk menunjang semua ini, para misionaris dituntut menghayati empat matra khas, yakni (1) Sabda Alkitabiah (Biblical Word), (2) Sabda yang Mengkomunikasi (Communicating Word), (3) Sabda yang Menganimasi (Animating Word) dan (4) Sabda Kenabian (Prophetic Word). Menyadari, bahwa karya misi akan lebih berdaya guna kalau bersumber dari penghayatan misionaris, KJ 2006 menekankan penghayatan dialog profetis itu secara ke dalam, dengan lima pilar pokok, yakni spiritualitas, komunitas, kepemimpinan, keuangan dan formasi. Dan akhirnya, KJ 2012 menekankan dimensi interkultural sebagai karakter hidup dan misi SVD masa kini.

Gerakan masif seluruh serikat ini ditanggapi oleh Provinsi Jawa dengan beberapa cara dalam proses animasi dan edukasi seluruh anggota. Tahun 2003, sebagai buah dari Kapitel Provinsi di tahun yang sama, ditetapkan langkah edukasi tentang misi sebagai dialog profetis, mitra-mitra dialog dan matra-matra khas. Tahun 2006, menanggapi seruan Jendralat SVD, komunitas provinsi mendefinisikan bagaimana menghayati dialog profetis itu melalui lima pilar utama, yakni spiritualitas, komunitas, kepemimpinan, keuangan dan formasi. Tahun 2009, provinsi mengambil langkah konkrit untuk memperkaya penghayatan dialog profetis itu melalui Kapitel Provinsi dengan tema Passion for Christ, Passion for Missionaries and Mission, and Passion for Creation. Satu wujud implementasi lapangan yang populer di masa itu ialah gerakan Go for Borneo yang berciri ekologis dan perjuangan hak-hak ulayat penduduk asli. Tahun 2012, provinsi mulai meneropong hidup dan misinya melalui lensa interkulturalitas, seiring dengan refleksi seluruh Serikat. Menanggapi Kapitel Jendral 2012, provinsi menetapkan Ardas (Arah Dasar) Provinsi 2014-2017, dengan tujuh bidang penekanan, yakni (1) keluarga dan kaum muda, (2) keutuhan ciptaan, (3) dialog ekumenis dan lintas agama, (4) migrasi, (5) keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan, (6) evangelisasi perdana dan evangelisasi baru, dan (7) memperjuangkan budaya kehidupan. Tujuh misi ad-extra ini didampingi oleh misi ad intra, yakni penghayatan internal interkulturalitas dalam lima hidup dan misi, yakni spiritualitas, komunitas, kepemimpinan, keuangan dan formasi. Sejalan dengan peralihan administrasi kepemimpinan, tahun 2014 provinsi mempersempit ardas pada dua misi ad extra dan lima misi ad intra. Penekanan ad extra itu mencakupi keutuhan ciptaan serta keluarga dan kaum muda, sementara misi ad intra tidak berubah. Penekanan tersebut dituang di dalam lima puluh enam kegiatan selama tiga tahun, 2015-2018, yang sangat diwarnai oleh kerasulan ekologi serta keluarga dan kaum muda, dalam bingkai lintas budaya. Dengan demikian, tema lintas budaya bukanlah sebuah hal yang sama sekali baru di dalam derap refleksi komunitas provinsi.


Temuan Visitasi DPP

Melihat alur gerak yang digambarkan di atas, secara praktis dapatlah dikatakan, bahwa Komunitas Provinsi SVD Jawa sudah lima belas tahun menghayati misi sebagai dialog profetis, lengkap dengan segala atributnya. Kapitel Provinsi 2003 merumuskan visi provinsi sebagai Sabda Allah, yang memancar dari kasih Allah Tritunggal, yang membebaskan, menciptakan persaudaraan sejati, hidup dalam hati semua manusia dan meresapi seluruh alam ciptaan (PK 2003 no. 9). Misi yang menghantar kita mencapai visi ini adalah dialog profetis. Dengan asumsi ini, bolehlah dikatakan, bahwa hidup dan misi SVD Jawa telah bergerak ke arah standar yang diharapkan seluruh Serikat. Namun, visitasi (kunjungan) para anggota Dewan Pimpinan Provinsi ke komunitas-komunitas membuahkan hasil yang berbeda. Realitas-realitas yang ditemukan dalam wawancara dengan setiap anggota komunitas, memberikan sebuah ilustrasi yang memprihatinkan, yakni ada indikasi memudarnya karakter hidup dan misi para misionaris SVD di berbagai tempat di wilayah-wilayah perutusan. Kesan ini tidak hanya muncul dari para misionaris SVD tetapi juga datang dari sejumlah ordinaris lokal (uskup) dan rekan-rekan awam. Noktah ini jelas menyakitkan, namun perlu diterima dengan rendah hati untuk melakukan koreksi diri. Atas temuan lapangan, ditunjang oleh kesan-kesan pihak ketiga, pimpinan provinsi merasa perlu untuk melakukan gerakan pembaharuan diri secara menyeluruh. ................ SELANJUTNYA

               
         


 
All stories by TIRTA WACANA Team except where otherwise noted. All rights reserved. | design: (c) aurelius pati soge